TUBAN Rentetan insiden ambruknya fasilitas pendidikan di Kabupaten Tuban dalam sebulan terakhir memicu sorotan tajam dari publik. Alih-alih mengevaluasi kelayakan proyek atau kualitas bangunan secara menyeluruh, Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, justru menuding faktor alam dan kondisi tanah yang labil sebagai biang keladi utamanya.

Sebagaimana diketahui, publik Bumi Wali dikejutkan oleh ambruknya dua bangunan sekolah dalam waktu yang berdekatan. Insiden pertama menimpa SDN Kutorejo 3 pada Rabu (03/06/2026), yang kemudian disusul oleh robohnya atap SD di salah satu Kecamatan Kerek pada Sabtu (20/06/2026).

Menanggapi rapor merah infrastruktur pendidikan ini, Bupati Tuban yang akrab disapa Lindra itu berkilah bahwa peristiwa tersebut mayoritas dipicu oleh pergeseran tanah, meski ia juga tidak menampik adanya faktor usia bangunan.

“Jadi rata-rata itu tanahnya labil ya. Teman-teman bisa cek, biasanya diawali tanahnya sudah goyang, dan di seberangnya ada sungai kecil sehingga tanah tergerus,” ujar Lindra saat ditemui usai menghadiri Sidang Paripurna di Gedung DPRD Tuban, Rabu (01/07/2026).

Ketika dikejar pertanyaan mengenai efektivitas perencanaan proyek yang terkesan kecolongan, Lindra kembali membela diri dengan “menyalahkan” perubahan kondisi alam yang dianggapnya tidak menentu dan di luar prediksi matang pemerintah daerah.

“Ini kan kondisi alam kondisinya berbeda-beda. Kalau saat perencanaan ya sudah cukup,” kelit Lindra, seolah menegaskan bahwa kalkulasi jajarannya sudah sempurna namun dipatahkan oleh alam.

Sorotan tajam sempat mengarah pada kasus yang baru-baru ini terjadi di Kecamatan Kerek. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekolah tersebut sebenarnya baru saja menyentuh anggaran proyek pembangunan pada tahun 2023 lalu. Namun, belum genap tiga tahun berjalan, bangunan di sekolah tersebut sudah ambruk.

Meredam spekulasi miring terkait kualitas proyek yang baru seumur jagung itu, Lindra buru-buru menegaskan bahwa struktur bangunan yang roboh bulan lalu bukanlah unit yang dikerjakan pada proyek tahun 2023.

“Itu unit bangunan yang berbeda. Sebelumnya memang ada pembangunan sekolah tersebut di tahun 2023, akan tetapi bangunan yang dikerjakan berbeda dengan yang roboh,” kilahnya tegas.

Sebagai langkah darurat, mantan Anggota DPRD Provinsi Jatim ini berjanji bakal segera melakukan perbaikan terhadap sekolah-sekolah yang terdampak. Masalahnya, anggaran yang awalnya sudah diplot untuk renovasi, kini terpaksa harus diutak-atik kembali akibat insiden tak terduga ini.

“Ini yang kemarin roboh sebenarnya sudah kami anggarkan. Tapi nanti bisa kami anggarkan untuk dibangun. Untuk perencanaannya, untuk unit yang lain nanti bisa kami geser,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan wali murid masih menanti langkah konkret Pemkab Tuban. Sebab, jika formula mitigasi hanya bersandar pada alasan kondisi alam yang berubah, kekhawatiran akan ambruknya sekolah-sekolah lain di Bumi Wali tampaknya masih akan terus menghantui. (Har/Tgb).