TUBAN – Predikat Kabupaten Layak Anak (KLA) yang dibanggakan Tuban kembali rontok di jalanan. Sebuah video amatir berdurasi 51 detik merekam potret brutal jalanan, memperlihatkan seorang remaja putri dihajar habis-habisan oleh teman sekolahnya di kawasan Jalan Soekarno-Hatta (Suhat).
Dalam video yang viral tersebut, tampak jelas aksi kekerasan yang dilakukan oleh pelaku yang juga seorang remaja putri. Meski korban sudah menangis histeris dan memohon-mohon agar tidak dipukul, pelaku yang tampak kalap tetap melayangkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi hingga korban tersungkur tak berdaya di jalanan.
Mirisnya, aksi keji ini baru diketahui oleh ibu korban semalam setelah dikabari oleh rekannya. Tanpa buang waktu, didampingi sang anak, ibu korban langsung mendatangi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Tuban untuk membuat laporan resmi pada Kamis pagi (09/07/2026).
Kepada awak media di Mapolresta Tuban, ibu korban membeberkan awal mula dirinya mengetahui petaka yang menimpa putrinya. Selama ini, anaknya memang bekerja paruh waktu di sebuah warung kopi milik temannya.
“Semula saya tidak tahu kejadian itu. Pemilik warung kopi tempat anak saya bekerja itu teman saya sendiri. Semalam, dia menghubungi saya dan memberi tahu kalau anak saya habis dipukuli temannya setelah melihat video yang viral di medsos,” ungkapnya dengan nada bergetar.
Mendengar kabar bak disambar petir tersebut, ia langsung menginterogasi sang anak. Berdasarkan pengakuan korban, aksi penganiayaan itu dipicu urusan sepele, yakni aksi saling olok antara korban dengan salah satu teman pelaku. Tak terima, teman pelaku ini mengadu hingga berujung cekcok tersebut.
Ibu korban menambahkan bahwa pelaku merupakan teman sekolah anaknya sendiri. Akibat penganiayaan brutal tersebut, sang anak mengalami trauma psikologis yang cukup mendalam hingga mengurung diri di rumah.
“Sejak kejadian itu anak saya ketakutan dan tidak berani keluar rumah sama sekali. Makanya pemilik warung sempat curiga dan bertanya, dari situ akhirnya semuanya terbongkar,” imbuhnya.
Usut punya usut, peristiwa kelam itu ternyata sudah terjadi cukup lama, yakni pada 27 Juni 2026 lalu. Namun, karena watak korban yang pendiam dan tertutup, kasus ini sempat lolos dari pantauan orang tua.
“Waktu pulang ke rumah setelah kejadian, saya sebenarnya melihat ada bercak darah di sela-sela giginya. Tapi saat saya tanya, dia berkilah katanya itu cuma sisa makanan yang menempel. Dia takut bercerita,” kenang sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Bukan itu saja, ibu korban juga menyebut bahwa sebelumnya pihaknya juga sempat di mediasi oleh bos korban. Namun bukannya merendah, sang pelaku justru menantang agar dilaporkan menuju ke pihak berwajib.
“Harapannya pihak kepolisian bisa memberikan efek jera kepada pelaku supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” harapnya dengan cemas.
Sementara itu, pihak kepolisian bergerak cepat merespons laporan tersebut. Kanit PPA Satreskrim Polresta Tuban, IPDA Sutikno menegaskan bahwa pihaknya saat ini tengah mendalami video viral dan laporan dari ibu korban.
“Kasus dugaan perundungan dan kekerasan ini sudah dalam proses penyelidikan kami. Saat ini tim sedang bekerja, untuk perkembangan lebih lanjut akan segera kami sampaikan,” ujar IPDA Sutikno singkat saat dikonfirmasi.
Kasus ini menambah daftar panjang rentetan aksi perundungan anak di bawah umur yang terjadi di Bumi Ronggolawe. Publik kini mempertanyakan komitmen nyata keluarga, sekolah, dan dinas terkait, mengingat berulangnya kasus kekerasan anak di Tuban yang kontras dengan statusnya sebagai Kabupaten Layak Anak. (Hus/Tgb).
