TUBAN – Hama tikus kian mengganas dan meluas di wilayah Kabupaten Tuban. Tak tanggung-tanggung, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Bumi Ronggolawe mencatat setidaknya ada 14 kecamatan yang kini mengonfirmasi dampak dari serangan hama pengerat tersebut.
Sebelumnya, warga Desa Gaji dan Wolutengah, Kecamatan Kerek telah terdampak hama hewan pengerat ini pada bulan Juni 2026 lalu. Usai hama tersebut menyerang tanaman jagung di wilayah itu, dua bulan berikutnya giliran petani di Desa Sawir, Kecamatan Tambakboyo yang kena getahnya.
Meski telah di obati dengan pembasmi tikus, nampaknya hewan yang dikenal memiliki dua pasang gigi seri besar di mulutnya itu tak kunjung mereda. Jumlah mereka justru semakin membludak sehingga menjangkit sedikit nya 14 Kecamatan di Kota Seribu Goa ini.
Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi para petani yang tengah mendukung program ketahanan pangan. Salah satu wilayah dengan dampak terparah berada di Kecamatan Kerek, khususnya di Desa Gaji dan Desa Wolutengah yang hingga kini tak kunjung usai penderitaannya.
Banyak petani di kawasan tersebut harus mengelus dada lantaran tanaman jagung mereka yang baru memasuki usia tanam sekitar 50 hari atau mulai berbuah, ludes diganyang koloni tikus.
Tak main-main dari informasi yang dihimpun tin Ronggo.id, ada sedikitnya 500 petani dari Wolutengah dan Gaji yang lahannya terdampak serangan hama ini. Disisi lain, bantuan dari Pemprov Jawa Timur dikabarkan akan datang pada Rabu (26/8) mendatang.
“Sudah diganggu sejak dua bulan lalu. Berbagai cara swadaya sudah kami lakukan, seperti memasang seng, jaring, hingga plastik pembatas. Tapi tikus masih bisa menjebol dan melompati pagar itu,” ujar Harsono, salah satu petani setempat, Kamis (20/8/2026).
Menanggapi meluasnya serangan di 14 kecamatan tersebut, Kepala DKP2P Tuban, Eko Julianto, menyatakan bahwa pihak dinas saat ini sedang memproses penyediaan rodentisida (racun tikus) untuk dibagikan secara gratis kepada kelompok tani (poktan).
Guna menekan populasi hewan dengan bahasa ilmiah rodensia ini yang kian tak terkendali di berbagai wilayah terdampak, DKP2P mendorong petani untuk bergerak serentak melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) berbasis kawasan.
”Kami mengimbau semua poktan melakukan gerakan pengendalian berbasis kawasan. Keperluan obatnya disiapkan oleh Pemkab. Harapannya, penyebaran hama tikus di 14 kecamatan ini bisa ditekan dan produksi pertanian tetap terjaga,” terang Eko.
Di sisi lain, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Kerek, Sunarto, mengungkapkan dalam proses pembasmian hama, selain mengandalkan racun, ia juga mendorong pemanfaatan musuh alami seperti burung hantu dan ular sawah.
Saat ini, program pembuatan Rumah Burung Hantu (Rubuha) baru terealisasi di Kecamatan Bancar, dan diusulkan bisa masuk ke Kecamatan Kerek pada tahun 2027 mendatang.
Para petani kini berharap langkah penanganan dari pemerintah daerah segera terealisasi secara nyata di lapangan agar ancaman gagal panen massal dapat terhindari. (Hus/Tgb).
