TUBAN – Istilah pahlawan tanpa tanda jasa tampaknya benar-benar dirasakan secara harfiah oleh para guru PAUD di Kabupaten Tuban. Tanpa kucuran insentif dari APBD setempat, para pendidik anak usia dini ini dipaksa mengabdi berbekal keikhlasan di tengah melambungnya biaya hidup.

Akibatnya, ratusan guru di seluruh pelosok Bumi Wali tersebut kini terpaksa harus gigit jari. Terhitung sejak awal tahun hingga memasuki akhir Agustus 2026, tak satu rupiah pun dana insentif daerah yang masuk ke rekening mereka.

Meski nominalnya juga tak seberapa, namun para tenaga pendidik tersebut cukup mewanti-wanti tambahan pemasukan tersebut. Uang yang jumlahnya hanya Rp300 ribu perbulan tersebut biasanya digunakan hanya untuk memenuhi operasional mereka sehari-hari.

Keterlambatan pencairan kali ini dinilai tak biasa. Sejumlah guru PAUD asal Kecamatan Semanding mengungkapkan, pencairan insentif di tahun-tahun sebelumnya selalu tepat waktu, berbeda dengan tahun ini yang terus menggantung tanpa kepastian sejak awal tahun.

“Biasanya di awal tahun itu di rapel tiga atau empat bulan, terus setelah itu rutin setiap bulan cair. Tapi berbeda dengan tahun ini yang sama sekali tak cair,” keluhnya dengan muka memelas saat ditemui dirumahnya.

Guru yang sudah mengabdi sekitar lima tahunan ini juga menyebut dulu sebelum Bupati, Aditya Halindra Faridzky menjabat di periode kedua, para pendidik juga sempat dijanjikan akan dinaikkan insentif nya menjadi Rp500 ribu. Namun dalam kenyataannya, janji yang awalnya manis itu justru berubah menjadi petaka.

“Uang insentif dari APBD sebenernya sangat membantu untuk menopang kebutuhan keluarga. Kami sebagai pendidik TK dengan gaji yang sangat minim, sebenarnya sangat mengharapkan insentif itu turun untuk keberlangsungan hidup kami,” tambah ibu dua anak ini.

Ia kini hanya bisa bergantung pada uang insentif yang bersumber dari Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) yang nilainya juga hanya Rp300 ribu serta gaji dari lembaga yang nominalnya tak menentu atau bisa dibilang seadanya.

Kesedihan serupa dirasakan juga oleh sejumlah guru PAUD di Kecamatan Montong. Pendidik yang saban tahun mengandalkan insentif rutin daerah ini mengaku prihatin lantaran hak yang biasanya diterima berkala, kini mendadak tersendat tanpa kepastian.

“Iya, Mas, betul. Insentif dari Januari hingga sekarang belum cair sama sekali dan rekan-rekan saya juga sama-sama menantikan kejelasannya,” tuturnya sembari bingung memikirkan kebutuhan hidup yang semakin tinggi.

Dia juga menyebutkan bahwa insentif tersebut mulai tak rutin sejak tahun 2024 lalu. Padahal, apabila insentif itu diruntut dari awal dia menerima sekitar tahun 2021 hingga 2023, upah dari anggaran daerah itu selalu rutin disalurkan.

Mendapati keluhan-keluhan para guru tersebut, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Tuban, Witono mengatakan pihaknya sudah mengomunikasikan keluhan tersebut kepada Dinas Pendidikan. Alasan dari pihak dinas sendiri hingga saat ini masih dalam proses.

“Harapannya semoga segera cair sehingga bisa dinikmati oleh para guru penerima,” ungkap Witono saat dihubungi melalui pesan singkat, Jumat (21/8/2026).

Disinggung menenai jumlah guru yang seharusnya menerima insentif tersebut, pihaknya tak tahu secara pasti soal data tersebut.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Tuban, Raden Mochamad Dani Ramdhani menjawab singkat terkait keluhan para tenaga pendidik karakter anak tersebut. Meski begitu dia tak menampik apabila ada keterlambatan pencairan insentif yang hanya diberikan kepada guru-guru yang belum bersertifikasi.

“Memang ada sedikit keterlambatan karena diperlukan adanya updating database dan penyesuaian standarisasi. Saat ini kami terus berprogress dan diupayakan bisa selesai dalam waktu yang tidak lama,” ungkapnya.

Saat disinggung mengenai total anggaran insentif untuk para guru di tahun ini, pihaknya tak menanggapi soal hal tersebut. Dia hanya memastikan bahwa anggaran itu tetap dianggarkan di tahun dengan shio kuda api ini. (Hus/Tgb).