TUBAN – Akses utama Kantor PT Semen Indonesia Logistik (SILOG) Tuban lumpuh total pada Rabu (19/8/2026). Beberapa sepeda motor disiagakan warga guna memblokir pintu masuk setelah aksi unjuk rasa warga Desa Socorejo, Kecamatan Jenu dan Desa Tlogowaru, Kecamatan Merakurak berujung buntu.
Kemarahan warga ring satu itu meledak lantaran manajemen PT SILOG dinilai terus menutup mata terhadap nasib dan keterlibatan masyarakat sekitar.
Perwakilan warga Desa Socorejo, Nafiq, menegaskan masyarakat mendesak kejelasan kucuran program Corporate Social Responsibility (CSR) serta prioritas pelibatan warga lokal dalam pengelolaan hingga lelang limbah afal perusahaan.
“Warga hanya menuntut hak. Kami minta CSR jelas dan warga ring satu Desa Socorejo serta Tlogowaru diprioritaskan dalam pengelolaan limbah afal,” tegaspun Nafiq di tengah kerumunan massa.
Aksi pemblokiran ini merupakan puncaknya. Sebelumnya, Pemdes Socorejo dan Tlogowaru sudah melayangkan surat keberatan resmi tertanggal 18 Agustus 2026 agar lelang 19 unit aset nonproduktif perusahaan ditunda demi memberi ruang dialog bagi warga sekitar.
Bukannya melunak, PT SILOG justru bergeming. Melalui surat balasan bernomor 042/TPA/08.2026, pihak perusahaan berkalih bahwa lelang 19 unit aset tersebut sudah sesuai prosedur Good Corporate Governance (GCG) yang diumumkan terbuka via situs resmi.
Sikap dingin perusahaan ini makin memantik amarah warga. Jalur mediasi yang sempat dibuka bersama HRD PT SILOG, Fitri, berakhir tanpa hasil.
Merasa tak digubris di daerah sendiri, warga mengancam akan mengepung tingkatan pimpinan yang lebih tinggi.
“Kalau di Tuban tidak ada titik temu dan tetap mengabaikan warga ring satu, kami siap ngeluruk ke kantor pusat PT SILOG dan menemui Direktur Operasional di Gresik,” gertak Nafiq.
Hingga berita ini diunggah, manajemen PT SILOG maupun Senior Manager of Unit Corporate Communication PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) Pabrik Tuban, Dharma Sunyata, kompak bungkam dan belum memberikan klarifikasi resmi atas aksi penutupan akses tersebut. (Har/Tgb).
