TUBAN – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Tuban meminta masyarakat tidak mengabaikan ancaman penyakit saluran pernapasan. Meski hingga kini belum terdeteksi adanya kasus terkonfirmasi Influenza A, tren penyakit menyerupai flu di Bumi Wali tercatat mulai merangkak naik dalam tiga bulan terakhir.
Kasus penyakit yang menginfeksi saluran pernafasan ini akhir-akhir ini tengah ramai jadi perbincangan. Dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 19 September 2026, proporsi influenza pada minggu ke-36 meningkat menjadi 46 persen dari 35 persen pada minggu sebelumnya.
Melihat hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Tuban, Roikan, menegaskan bahwa penegakan diagnosis untuk Influenza A membutuhkan ketelitian dan prosedur medis yang ketat.
“Sampai dengan saat ini belum ada laporan kasus untuk penyakit spesifik Influenza A. Sebab, untuk memastikan diagnosis influenza diperlukan pemeriksaan laboratorium menggunakan metode dan alat deteksi seperti pemeriksaan molekuler (RT-PCR) atau metode diagnostik lainnya yang tervalidasi,” ungkap Roikan.
Meski demikian, Roikan meminta masyarakat untuk mewaspadai lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Influenza Like Illness (ILI) di Bumi Ronggolawe. Kedua jenis penyakit tersebut memiliki karakter serta gejala klinis yang sangat mirip dengan influenza.
“Meskipun positivity rate atau kasus mengalami peningkatan, tren kasus tersebut secara keseluruhan masih menunjukkan kondisi relatif stabil dan masih berada dalam pola musiman yang perlu terus dipantau,” terangnya.
Mengenai tingkat kerentanan, Roikan meluruskan anggapan bahwa Influenza A hanya menyasar kelompok usia tertentu. Menurutnya, secara epidemiologis anak-anak memang tergolong rentan, terutama anak berusia di bawah lima tahun dan yang paling tinggi risikannya pada anak berusia di bawah dua tahun.
“Namun perlu diluruskan, bukan berarti virus Influenza A hanya atau secara khusus menyerang anak-anak. Semua kelompok umur dapat terinfeksi. Yang lebih menonjol pada anak adalah risiko tertular dan komplikasi yang lebih berat,” jelas Roikan.
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan anak-anak lebih rentan dan berisiko tinggi. Di antaranya sistem imun yang masih berkembang, saluran pernapasan anak yang berukuran lebih kecil, tingginya paparan di lingkungan anak, belum banyaknya terbentuk kekebalan terhadap strain influenza, serta tubuh anak yang lebih mudah mengalami komplikasi.
Dalam hal penularannya, pejabat yang kini berdomisili di Kecamatan Soko ini membeberkan bahwa Influenza A maupun ISPA pada umumnya menyebar melalui saluran pernapasan. Virus tersebut berpindah lewat percikan droplet dan partikel pernapasan saat penderita batuk, bersin, berbicara, atau bernapas.
Terkait gejala, secara klinis penderita akan mengeluhkan demam hingga 38°C atau lebih, batuk, sakit tenggorokan, serta pilek. Gejala-gejala klinis ini menjadi dasar kecurigaan atau penetapan awal sebagai penderita ILI sebelum dipastikan melalui uji laboratorium.
Penanganan yang terlambat pada pasien terinfeksi dapat berdampak fatal, terutama bagi kelompok rentan. Jika tidak segera ditindaklanjuti, infeksi dapat merembet dan menyerang berbagai organ tubuh penting lainnya.
“Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia, dehidrasi, infeksi telinga, perburukan asma atau penyakit kronis, serta gangguan otak seperti ensefalopati. Influenza juga dapat memperburuk penyakit bawaan yang sudah dimiliki pasien, seperti asma, penyakit jantung, diabetes, atau penyakit paru kronis,” tegasnya.
Untuk meminimalisir dan mencegah potensi penyebaran yang lebih luas, Dinkes P2KB Kota Legen ini mendorong langkah preventif secara menyeluruh mulai dari tingkat keluarga hingga lingkungan sekitar.
Pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi, deteksi dan penanganan dini, memakai masker saat sakit, membatasi kontak dengan kelompok rentan, menerapkan etika batuk dan bersin, rajin mencuci tangan, serta memastikan ventilasi udara ruangan dalam kondisi baik.
Mengakhiri keterangannya, Pria yang kini juga menjabat sebagai Direktur RSUD Ali Manshur memberikan imbauan tegas kepada seluruh warga Kabupaten dengan 20 kecamatan agar terus menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan PHBS seperti cuci tangan pakai sabun, olahraga rutin, dan konsumsi makanan bergizi seimbang serta menggunakan masker di lingkungan berisiko dan hindari kerumunan,” tutupnya
Ia juga meminta masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala pernapasan yang memburuk atau muncul tanda bahaya seperti sesak napas, demam tinggi berkepanjangan, kejang, maupun penurunan kesadaran. (Hus/Tgb).
