TUBAN — Tren pernikahan di usia muda tampaknya mulai ditinggalkan oleh sebagian anak muda dari generasi Z (Gen Z) di Kabupaten Tuban. Di tengah ketatnya persaingan dunia kerja dan dinamika zaman, mereka kini lebih memilih untuk memantapkan pendidikan, meniti karier, hingga menata kemapanan finansial sebelum melangkah ke jenjang rumah tangga.

Fenomena pergeseran pola pikir ini turut terefleksikan dari data resmi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tuban. Berdasarkan catatan Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, angka pernikahan di Bumi Ronggolawe selama Januari hingga Oktober 2026 tercatat sebanyak 6.640 pasangan.

Jumlah tersebut menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 lalu yang menyentuh angka 6.771 pernikahan. Tercatat ada selisih 131 pasangan atau mengalami penurunan sekitar 1,93 persen.

Angka ini mengindikasikan bahwa keputusan sakral untuk menikah kini tidak lagi diambil secara gegabah, melainkan melalui pertimbangan matang terkait kesiapan masa depan.

Bagi Vian (25), warga Kecamatan Semanding, menunda pernikahan bukan berarti menolak komitmen. Menurutnya, membangun rumah tangga membutuhkan fondasi ekonomi yang stabil agar tidak keteteran di tengah jalan.

“Kalau bahasa Gen Z sekarang, ini soal ekonomi. Lebih baik mapan terlebih dahulu daripada terburu-buru menikah, tetapi nantinya justru gugup menghadapi kebutuhan rumah tangga,” ujarnya lugas.

Bagi Vian, memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap adalah modal krusial. Ia ingin memastikan bahwa saat dirinya menikah nanti, ia tidak hanya siap secara mental, tetapi juga mampu memenuhi tanggung jawab finansial keluarga secara mandiri.

Sependapat dengan hal itu, Dina (24) juga tak menampik akan hal tersebut. Menurutnya, kestabilan ekonomi harus menjadi prioritas diatas apapun. Dia khawatir, apabila kedepan menikah tanpa peduli soal ekonomi, rumah tangga yang dibangun bisa dipenuhi dengan konflik.

“Biasanya saat kita sendiri kalau kita tidak punya uang saja, kita pusing. Apalagi kedepan juga ada tanggungan dengan keluarga,” ucap Dina.

Menanggapi fenomena ini, Kepala Seksi Binmas Islam Kemenag Tuban, Mashari, tidak memungkiri adanya pergeseran pola pikir di kalangan anak muda saat ini. Menurutnya, prioritas Gen Z kini lebih condong pada pengembangan diri, menempuh pendidikan tinggi, serta mengejar karier yang menjanjikan.

Meski demikian, Mashari menilai naik turunnya grafik angka pernikahan merupakan hal yang lumrah dalam dinamika sosial kemasyarakatan dari tahun ke tahun. Ia berpesan, esensi utama dari sebuah pernikahan bukanlah seberapa tinggi angka statistik yang tercatat, melainkan bagaimana pasangan mampu merajut keharmonisan dan kualitas rumah tangga jangka panjang.

“Yang terpenting, pernikahan itu bukan soal naik atau turunnya jumlah. Namun, bagaimana kita mempersiapkan kualitas rumah tangga setelah pernikahan itu,” tandas Mashari.

Pada akhirnya, apa yang dipilih oleh sebagian Gen Z di Bumi Wali ini membuktikan bahwa menunda pernikahan adalah sebuah bentuk kesadaran baru. Bahwa membangun biduk rumah tangga bukan tentang siapa yang paling cepat melangkah, melainkan siapa yang paling siap lahir batin untuk menjalaninya. (Hus/Tgb).