TUBAN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban menyalurkan bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Dusun Randubanjar, Desa Sambongrejo, Kecamatan Semanding. Penyaluran ini menjadi langkah nyata mahasiswa dalam merespons krisis air bersih yang melanda wilayah tersebut.

Penyaluran bantuan dilakukan melalui program Kementerian Sosial Masyarakat dan Lingkungan Kabinet Gana Amerta BEM Unirow. Sebanyak 30 ribu liter air bersih dikirimkan langsung untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan aktivitas harian masyarakat setempat.

Total air bersih tersebut diangkut menggunakan enam armada truk tangki. Bantuan ini disasarkan kepada sekitar 48 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Randubanjar yang kesulitan mendapatkan pasokan air akibat kemarau panjang.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bumi Wali per awal Oktober 2026, peta kekeringan di Kota Legen ini kian meluas. Sedikitnya terdapat 28 desa yang tersebar di 11 kecamatan kini mengalami krisis air bersih dan membutuhkan penanganan darurat.

Presiden Mahasiswa (Presma) BEM Unirow Tuban, Kuswanto, menegaskan bahwa aksi sosial ini merupakan pilar kepedulian mahasiswa terhadap kondisi riil masyarakat. Mahasiswa dinilai harus peka dan tanggap terhadap krisis yang dialami warga sekitar.

“Kami sebagai mahasiswa tidak ingin hanya menjadi penonton ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan. Kami ingin hadir langsung, melihat kondisi warga, sekaligus berbuat sesuatu yang bisa dirasakan manfaatnya,” kata Kuswanto.

Menurutnya, peran mahasiswa tidak boleh sebatas beraktivitas di dalam area kampus saat masyarakat berhadapan dengan persoalan dasar. Kehadiran langsung di lapangan menjadi prioritas untuk meringankan beban warga terdampak.

Kegiatan distribusi air bersih ini mengusung tema “Setetes Kepedulian untuk Seribu Kebutuhan”. Tema tersebut mencerminkan komitmen kepedulian mahasiswa untuk menghadirkan bantuan konkret di tengah keterbatasan pasokan air.

Kuswanto menyadari bahwa bantuan air bersih melalui tangki ini bukanlah solusi permanen untuk mengatasi krisis kekeringan. Namun, pasokan air tersebut diharapkan mampu menopang kebutuhan mendesak warga dalam beberapa waktu ke depan.

“Memang bantuan ini bukan solusi permanen. Namun, bagi warga yang sedang membutuhkan air, 30 ribu liter ini tentu sangat berarti. Kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu kita memiliki sesuatu yang besar,” tuturnya.

Dalam menjalankan aksi kemanusiaan ini, BEM Unirow Tuban menjalin kolaborasi teknis dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban agar proses distribusi berjalan tertib dan tepat sasaran.

Penanganan krisis air di Desa Sambongrejo ini direncanakan sebagai tahap awal gerakan sosial BEM Unirow. Pihaknya berencana memperluas jangkauan pemetaan dan penyaluran ke titik-titik lokasi lain yang mengalami krisis serupa.

“Kegiatan hari ini merupakan tahap awal. Kalau kondisi kemarau masih berlangsung dan kemampuan kami memungkinkan, kami akan berusaha melanjutkan distribusi ke desa-desa lain yang membutuhkan,” imbuh Kuswanto.

Kuswanto turut mengajak seluruh elemen pemuda dan masyarakat luas untuk memperkuat sinergi dalam merespons bencana kekeringan. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan dasar warga yang terdampak krisis air menjadi tanggung jawab bersama.

“Kami berharap gerakan kecil ini bisa menumbuhkan kepedulian yang lebih luas. Berbagi tidak selalu harus sesuatu yang besar. Kadang, setetes air saja sudah sangat berarti bagi mereka yang sedang membutuhkan,” pungkasnya. (Hus/Tgb).