TUBANKebakaran lahan kembali menggerogoti kawasan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban milik PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP). Kali ini, si jago merah melahap setidaknya satu hektare lahan di area proyek strategis tersebut pada Jumat (21/8/2026).

Insiden kebakaran di lahan yang luasnya sekitar 840 hektar ini bukan pertama kalinya terjadi. Kebakaran terbesar tercatat sekitar tiga tahun lalu, tepatnya pada 2023, ketika kobaran api melalap sekitar 155 hektar lahan kosong yang rencananya akan dijadikan lokasi pembangunan kilang minyak.

Setelah itu, tepatnya pada tahun 2024 lalu, skenario yang sama kembali menyambar lahan itu. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kobaran kala itu hanya menjangkit setidaknya 10 hektar lahan yang sama-sama penuh dengan rumput kering dan semak belukar.

Seorang warga setempat mengaku tidak mengetahui pemicu utama kebakaran tersebut dan hanya mampir untuk melihat situasi saat melintas. Menurut amatannya, kobaran api dengan cepat membesar dan meluas akibat banyaknya semak belukar serta rumput kering di area tersebut.

Bukan hanya api, kepulan asap dari api yang padam juga sempat mengganggu jarak pandang pengendara yang melintas di ruas Jalur Pantura, yang tepatnya di kawasan yang hingga kini terkenal dengan Jati Peteng.

Mendapati situasi itu, petugas gabungan dari internal PRPP sendiri, PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), PLTU Tanjung Awar-awar hingga Damkar dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Legen ini langsung terjun ke lokasi.

Junior Corporate Social Responsibility (CSR) PT PRPP, Angger Wiyatmoko mengatakan api setidaknya muncul sekitar pukul 11.15 wib. Meski begitu pihaknya masih belum dapat mengindentifikasi penyebab utama dari kobaran api itu.

“Kami langsung berkoordinasi, Mas, dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan upaya pemadaman,” kata Angger saat ditemui di main gate proyek GRR Tuban.

Sementara itu, Kabid Pemadam Kebakaran, Satpol-PP dan Damkar Tuban, Sutaji menyampaikan bahwa tim lapangannya langsung diterjunkan begitu menerima laporan dari Kapolsek Jenu. Ia menegaskan bahwa mitigasi pencegahan sebenarnya baru saja dibahas bersama pihak perusahaan.

“Padahal baru dua minggu lalu kami berkoordinasi terkait langkah mitigasi, tapi musibah ini malah terjadi lagi,” ujar Sutaji.

Karena sudah terjadi tiga hingga empat kali, Sutaji menekankan agar pihak pengelola proyek GRR memperketat langkah antisipasi. Pihaknya mengimbau masyarakat maupun pekerja untuk tidak membakar sampah sembarangan serta tidak membuang puntung rokok yang masih menyala di sekitar area rawan.

“Kami minta penanganan di area GRR diperketat. Perlengkapan pemadam harus dilengkapi, unit fire truck disiagakan, menara pantau dibangun, dan rumput-rumput kering di area proyek harus segera dibersihkan atau dibabat agar tidak menjadi pemicu kebakaran berulang,” pungkasnya.

Upaya pemadaman dan pendinginan di lokasi kini terus dilakukan oleh tim gabungan guna memastikan tidak ada sisa titik api yang berpotensi memicu kebakaran susulan. Masyarakat dan para pengguna jalan di jalur Pantura pun diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gangguan jarak pandang akibat sisa kepulan asap. (Hus/Tgb).