TUBAN – Keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Permanen di Kabupaten Tuban bukan sekadar obral janji sekolah gratis. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan fasilitas ini dibentuk sebagai benteng pertahanan terakhir agar tidak ada satu pun anak di Bumi Ronggolawe dan sekitarnya yang terlempar dari hak pendidikan.

Pernyataan tersebut disampaikan Khofifah saat meninjau langsung kesiapan bangunan SRT Permanen Tuban pada Rabu (29/7/2026). Menurutnya, SRT merupakan wujud nyata prinsip ‘no one left behind’ dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

“Ini bagian dari langkah nyata kita untuk memastikan tidak ada lagi anak yang tertinggal atau luput dari layanan pendidikan,” tegas Khofifah di lokasi.

Saat ini, sekolah berbasis asrama ini sudah menerima setidaknya 196 siswa dari penjuru Kota Legen. Dari total tersebut, setidaknya ada 16 siswa SD, 90 SMP dan 90 SMA. Bukan hanya dari Tuban saja, SRT yang terletak di Kelurahan Mondokan ini juga menerima 60 siswa dari Kabupaten Bojonegoro.

Fakta di lapangan cukup memprihatinkan. Banyak calon siswa yang diboyong ke SRT merupakan anak-anak yang sudah lama patah jalan alias putus sekolah. Ironisnya, saat diajak berdialog, beberapa anak bahkan sudah lupa kelas berapa terakhir kali mereka menduduki bangku sekolah.

“Tadi ada yang saya tanya, ‘kamu kelas berapa?’, mereka bingung dan belum tahu. Kebanyakan drop out di kelas 2, 3, atau 4 SD. Di sinilah mereka kita rangkul kembali agar bisa melanjutkan masa depannya,” beber mantan Menteri Sosial tersebut.

Merayu keluarga berpenghasilan rendah agar mau melepas anaknya kembali bersekolah ternyata bukan perkara gampang. Khofifah membongkar perjuangan dramatis para petugas pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang bergerak bergerilya di lapangan.

“Ada pendamping PKH yang harus mendatangi rumah warga sampai 10 kali! Harus di-hunting, diyakinkan pelan-pelan sampai orang tuanya luluh dan mengizinkan anaknya masuk ke sini,” ungkap Khofifah.

Tak hanya menampung anak-anak lokal, SRT Permanen ini juga menjadi wadah interaksi lintas daerah dengan menerima siswa dari wilayah tetangga, seperti Kabupaten Bojonegoro hingga Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Menyadari anak-anak dari berbagai latar belakang dan daerah akan tinggal bersama di asrama, Khofifah mewanti-wanti pihak sekolah untuk membentengi mental para siswa. Ia menginstruksikan agar psikolog didatangkan secara rutin untuk mencegah potensi bullying (perundungan).

“Saya sudah minta ke Kepala Sekolah, minimal sebulan sekali hadirkan psikolog. Pendekatan psikologis ini penting supaya proses adaptasi mereka berjalan baik dan suasana asrama tetap kondusif,” tambahnya.

SRT Permanen Bumi Wali merupakan buah kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Tuban yang menyediakan lahan, serta Pemerintah Pusat yang mengucurkan anggaran pembangunan fisik gedung. Pembangunan ditargetkan rampung total pada 31 Juli 2026, sementara para siswa dijadwalkan mulai masuk dan menghuni asrama per 30 Juli 2026.

Hadirnya SRT membawa angin segar dan harapan baru bagi masyarakat kelas bawah. Sarni (33), warga Kecamatan Tambakboyo, Tuban, tidak sanggup menyembunyikan rasa harunya saat tahu sang putri berhasil diterima.

“Sangat membantu bagi rakyat kecil seperti keluarga saya. Harapan saya, anak saya bisa sekolah dengan tenang di sini dan menggapai cita-citanya,” tutur Sarni penuh haru. (Hus/Tgb).