TUBAN Nampaknya ada yang tak beres di perairan bekas galian tambang galian C yang terletak di Desa Mliwang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Secara misterius, ribuan ikan mendadak naik ke permukaan air dalam kondisi teler sebelum akhirnya tewas massal dan membusuk, Senin (27/7/2026).

Kiamat kecil bagi satwa air tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak Jumat (24/7/2026) kemarin. Sebelum mati, ribuan ikan air tawar tersebut sempat nampak muncul kepermukaan sembari megap-megap dan nampak lemas. Warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut lantas berbondong-bondong menangkan ikan-ikan itu.

Dari informasi yang dihimpun oleh tim Ronggo.id Tuban, kepemilikan lahan galian C tersebut ternyata masih simpang siur. Sejumlah sumber menyebut lokasi itu bekas tambang milik PT Semen Indonesia (SIG), namun kabar lain mengklaim perairan terdampak sejatinya merupakan area budidaya ikan kelolaan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI).

Salah seorang warga sekitar menuturkan, tanda-tanda kematian massal ikan tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak empat hari yang lalu. Banyak ikan yang naik ke permukaan dalam kondisi lemas seolah kekurangan oksigen.

Momen tersebut sempat dimanfaatkan warga setempat untuk memanen ikan secara masal menggunakan jaring maupun wadah seadanya sebelum seluruh ikan benar-benar mati.

“Bahkan saat sebelum Jumat itu ikan-ikannya sudah muncul ke permukaan dan mangap-mangap seperti kekurangan oksigen. Banyak warga yang mengambil, ada yang sampai dapat dua karung,” ujar warga di sekitar lokasi kejadian.

Meskipun sebagian warga sempat mengonsumsi ikan tangkapan tersebut, hingga kini dilaporkan belum ada warga yang mengeluhkan gejala keracunan atau gangguan kesehatan lainnya. Meski begitu, masyarakat meragukan fenomena ini murni disebabkan oleh faktor cuaca semata.

“Kalau soal cuaca disekitar sini itu ada tiga titik, tapi kok yang mati hanya disitu saja. Kalau faktor cuaca kayaknya engga deh,” ungkapnya.

Menanggapi fenomena viral tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Kabupaten Tuban menyatakan bakal segera turun tangan melakukan penelusuran.

Kabid Tata Lingkungan, Pengendalian Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan DLHP Tuban, Andi Setiawan, mengaku pihaknya belum menerima laporan resmi dari warga. Meski begitu, ia akan langsung bergerak memetakan lokasi guna mengusut penyebab pasti kejadian tersebut.

“Setelah kami tahu lokasi pastinya, kami akan segera memeriksa keadaan di lapangan,” tegas pejabat asal Lumajang ini.

Ia juga mengimbau keras agar warga tidak lagi mengambil atau mengonsumsi bangkai ikan yang ada di lokasi bekas tambang tersebut demi keselamatan kesehatan.

“Tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti matinya ikan-ikan tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu, Senior Manager of Corporate Communication PT SIG Tuban, Dharma Sunyata tak memberikan tanggapan apapun mengenai permasalahan tersebut. Sedangkan, Corporate Communication Reg 3 PT SBI Tuban, Ario Patra Nugraha mengatakan bekas galian tambang itu bukan lah milik perusahaannya.

Di tengah aksi bungkam dan saling tangkis status kepemilikan lahan antara perusahaan besar, fenomena kiamat kecil ini seolah dibiarkan tanpa pemilik. Hasil uji laboratorium DLHP Bumi Wali kelak diharapkan tak hanya mengungkap racun apa yang mengendap di air, tetapi juga membuka tabir siapa yang seharusnya bertanggung jawab. (Har/Tgb).