TUBAN – Unit Pelaksana Teknis Balai Latihan Kerja (UPT BLK) Tuban yang biasanya lengang, berubah menjadi ruang penuh harapan. Puluhan anak dengan raut gugup dan semangat, didampingi orang tua mereka, memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat (SR), sebuah inisiatif pendidikan berbasis asrama yang ditujukan khusus bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Acara tersebut dihadiri pejabat lintas sektor, Sekretaris Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI Beni Sujanto, Wakil Bupati Tuban Joko Sarwono, Sekretaris Daerah Budi Wiyana, Kepala SR Vera Khairun Nissa, serta Ketua Komisi IV DPRD Tuban Sri Rahayu. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi sinyal bahwa SR ini adalah proyek strategis yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah.

Dua rombongan belajar (Rombel) menjadi pionir angkatan pertama, masing-masing berisi 25 siswa dari seluruh kecamatan di Kabupaten Tuban. Mereka akan tinggal di asrama, dibimbing oleh 19 tenaga pengajar, 6 pengasuh putri, dan 4 pengasuh putra. Model ini menuntut sinergi tinggi antara pengasuh dan guru, bukan hanya dalam mengajar, tapi juga membentuk karakter.

“Diharapkan di masa orientasi ini, hubungan antara pengasuh dan siswa dibangun secara pedagogis, tidak harus dipaksa,” kata Wakil Bupati Joko Sarwono kepada Ronggo.id Kamis (14/8/2025).

Ia menekankan, SR adalah kesempatan kedua bagi anak-anak yang hampir terhenti pendidikannya karena faktor ekonomi. Bagi Joko, keberhasilan SR bukan hanya diukur dari nilai rapor, tetapi dari perubahan mentalitas anak-anak ini. Ia mendorong orang tua untuk tetap menjadi bagian aktif dalam perjalanan pendidikan mereka.

“Peran orang tua sangat penting. Mereka harus ikhlas mempercayakan anak-anaknya kepada pengasuh SR, tetapi tetap memberi dukungan moral,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dirjen Linjamsos, Beni Sujanto, menepis stigma bahwa sistem asrama identik dengan kedisiplinan ala militer.

“Pola kami terstruktur untuk membentuk karakter emosional, spiritual, kognitif, dan psikomotorik. Ini pendidikan holistik, bukan baris-berbaris,” ujarnya.

Pendekatan SR ini bukan hanya menyiapkan generasi akademis, tetapi juga generasi tangguh yang mampu menghadapi realitas sosial-ekonomi di masa depan. Model asrama memungkinkan pembelajaran tak berhenti di kelas, mulai dari manajemen diri, kepemimpinan, hingga keterampilan hidup.

Dengan target lahirnya lulusan yang unggul secara pengetahuan sekaligus kuat mental, SR Tuban memposisikan diri bukan sekadar sekolah alternatif, tetapi laboratorium sosial untuk menguji model pendidikan yang menggabungkan perlindungan sosial, pengasuhan, dan kurikulum formal.

Mekanisme Seleksi Siswa SR Tuban

Proses penerimaan siswa Sekolah Rakyat (SR) Tuban tidak dilakukan secara sembarangan. Sasaran utama adalah anak-anak dari keluarga prasejahtera yang terancam putus sekolah. Calon peserta didik direkomendasikan melalui perangkat desa, sekolah asal, atau lembaga sosial, kemudian diverifikasi melalui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau hasil survei lapangan Dinas Sosial.

Setelah pendaftaran, tim seleksi melakukan pemeriksaan dokumen kependudukan, rapor terakhir, hingga kunjungan langsung ke rumah calon siswa untuk memastikan kondisi ekonomi dan kesiapan keluarga menerima sistem pendidikan berbasis asrama.

Tahap berikutnya adalah tes akademik dasar serta observasi psikologis guna menilai kemampuan belajar dan daya adaptasi. Wawancara juga dilakukan, baik kepada anak maupun orang tua, untuk mengukur komitmen dan motivasi mengikuti program.

Siswa yang lolos akan diumumkan secara resmi dan menjalani masa adaptasi selama tiga bulan. Pada periode ini, kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan pola asrama akan dievaluasi sebelum dinyatakan resmi sebagai siswa tetap.

Model Pendidikan SR Dibanding Sekolah Konvensional

Berbeda dengan sekolah umum, SR Tuban menerapkan sistem asrama penuh. Selama 24 jam, siswa dibimbing oleh guru dan pengasuh, tidak hanya dalam pembelajaran formal tetapi juga dalam keterampilan hidup (life skills), pembentukan karakter, dan penguatan disiplin.

Jika sekolah konvensional umumnya fokus pada capaian akademik di ruang kelas, SR menggabungkannya dengan program pelatihan praktis seperti keterampilan kewirausahaan, pertanian, hingga pengelolaan lingkungan. Kontrol dan disiplin berlangsung ketat karena seluruh aktivitas siswa berada dalam pengawasan langsung pengasuh.

Pendanaan SR sepenuhnya ditanggung pemerintah dan donatur sehingga tidak ada biaya bagi siswa. Model ini dirancang untuk memutus mata rantai kemiskinan, memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak hanya bertahan di bangku sekolah, tetapi juga siap menghadapi tantangan hidup dengan bekal akademik dan keterampilan yang seimbang. (Hus/Tgb).