TUBAN – Desa Pakis yang terletak di Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, dikenal kaya akan peninggalan sejarah dan tradisi leluhur. Selain memiliki potensi wisata alam eksotis berupa Sendang Pancuran, desa di kawasan perbukitan ini juga menyimpan cerita rakyat yang kuat tentang asal-usul desa, tradisi sedekah bumi, hingga deretan situs sakral yang masih dirawat baik oleh warga setempat.
Ketertarikan akan kekayaan budaya ini mendorong para mahasiswa dari IAINU Tuban untuk turun langsung melakukan penelusuran sejarah di desa tersebut.
Berdasarkan penuturan Kepala Dusun Pancuran, Bapak Samuri, Sendang Pancuran pada mulanya adalah sumber mata air murni yang keluar dari celah-celah bebatuan alam. Sejak zaman dahulu, sendang ini menjadi urat nadi kehidupan warga untuk mandi, mencuci, hingga mengairi hamparan pertanian.
Menariknya, ada kisah heroik yang menyelimuti tempat ini. Konon, pada masa perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1945, seorang tokoh pejuang bernama Kapten Suja kerat dikaitkan dengan keberadaan sendang.
“Keterkaitan Kapten Sujak dengan pembangunan awal Sendang Pancuran memang masih berupa tradisi lisan. Hingga kini, belum ditemukan dokumen tertulis yang valid, sehingga masih memerlukan kajian sejarah lebih mendalam,” ujar Samuri.
Seiring berjalannya waktu, wajah Sendang Pancuran mulai bersolek. Pada tahun 2009, kawasan ini ditata agar lebih rapi dan nyaman bagi pengunjung, lengkap dengan pembangunan fasilitas umum dan ikon patung penanda wisata. Pemerintah desa setempat kemudian mengusulkan program pengembangan infrastruktur ke pemerintah pusat guna mempercantik area sendang.
Saat ini, Sendang Pancuran mengandalkan dua mata air utama. Demi mengantisipasi kekeringan saat musim kemarau, pihak pengelola juga telah menyiagakan dua sumur bor pendukung agar pasokan air tetap stabil.
Bukan hanya pesona alamnya, Desa Pakis juga memegang teguh tradisi Sedekah Bumi sebagai ritual tahunan rasa syukur atas hasil panen dan keselamatan desa. Uniknya, ritual ini tidak terpusat di satu titik, melainkan digelar secara bergantian di tujuh lokasi makam leluhur yang tersebar di wilayah Desa Pakis.
Khusus untuk Dusun Pancuran, prosesi sedekah bumi digelar di empat titik sakral, yaitu, Kawasan Sendang Kulon; Sendang Timur; Kawasan Soco; serta, Kawasan Sendang Pancuran.
Sebagian kisah sejarah dan silsilah desa sengaja dijaga ketat oleh juru kunci atau tokoh adat setempat. Tidak semua cerita dibuka untuk umum, demi menghormati kesakralan warisan leluhur.
Situs lain yang tak kalah misterius adalah Bukit Lai. Di puncak bukit ini, masyarakat memercayai adanya bekas tapakan kaki kuno peninggalan masa lampau. Namun, misteri ini belum terpecahkan secara ilmiah karena belum ada penelitian arkeologis resmi yang meneliti situs tersebut.
Sementara itu, terkait asal-usul nama Desa Pakis, ada romansa sejarah lisan yang menghubungkannya dengan wilayah Menyunyur. Konon, di masa lampau, warga Menyunyur dikenal memiliki kecerdasan dan kemampuan administrasi yang lebih maju, sehingga urusan tata usaha pemerintahan banyak diserahkan kepada mereka.
Rangkaian cerita rakyat, tradisi, dan situs sejarah ini menegaskan bahwa Desa Pakis, Kecamatan Grabagan, bukan sekadar destinasi wisata alam biasa. Desa ini adalah potret nyata dari keserasian alam dan kearifan lokal yang harus terus dilestarikan demi menguatkan identitas budaya bertajuk wisata berbasis sejarah di Bumi Wali. (Hus/Tgb).
