TUBAN – Merasa hak-haknya dikebiri oleh PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Pabrik Tuban, ratusan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) melakukan blokade terhadap pintu masuk perusahaan serta jalur Pantura, para Rabu (8/7/2026).

Pantauan di lapangan, pergerakan massa sudah mulai memadati lapangan Desa Temandang sejak pukul 07.00 WIB. Sekitar pukul 09.00 WIB, ratusan buruh mulai melakukan long march menuju area PT SBI dan tiba di depan gerbang perusahaan pelat merah tersebut sekitar pukul 10.00 WIB.

Begitu tiba, massa langsung memasang barikade massa di depan pintu masuk utama yang bertepatan dengan jalur Daendels itu dan bergantian melakukan orasi dengan pengawalan ketat aparat keamanan.

Dalam aksi ini, FSPMI Tuban membawa tiga tuntutan krusial yang dinilai menjadi hak mutlak para pekerja namun hingga kini belum dipenuhi secara adil. Mereka menuntut beberapa hal untuk dipenuhi oleh perusahaan.

Pertama, para buruh mendesak PT SBI selaku pemberi kerja utama untuk bertanggung jawab penuh atas perlindungan hak buruh di bawah mitra kerjanya, PT Pincuran Sinanjung Mas. Mereka menuntut kepastian kenaikan upah 2026 yang berbasis keadilan, kemanusiaan, dan hukum kebiasaan setempat.

Bukan hanya itu, mereka meminta perusahaan untuk mendukung penuh penerapan Struktur dan Skala Upah (SUSU) sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Jawa Timur Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyelenggaraan ketenagakerjaan.

Dan yang terakhir pekerja menuntut sanksi tegas kepada PT Pincuran Sinanjung Mas atas dugaan pelanggaran serius terkait Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Massa aksi menegaskan akan mengawal hak-hak mereka agar segera dipenuhi.

Menurut Ketua FSPMI Tuban, Duraji, manajemen perusahaan sebenarnya telah membuka ruang audiensi sejak pagi hari. Meski demikian, ribuan buruh memilih tetap bertahan di depan gerbang pabrik sembari menunggu hasil perundingan yang dinilai benar-benar mengakomodasi tuntutan mereka.

“Minimal hasil negosiasi harus mengakomodasi sekitar 90 persen dari poin-poin tuntutan yang sudah kami sampaikan dalam surat pemberitahuan aksi. Karena itu, sampai siang ini kami masih bertahan di lokasi,” ujar Duraji saat ditemui di sela-sela aksi.

Saat ditanya mengenai kemungkinan aksi lanjutan, Duraji mengaku belum dapat memastikan langkah berikutnya. Menurutnya, keputusan akan diambil setelah hasil audiensi dengan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) dituangkan secara resmi dan dapat dievaluasi oleh serikat pekerja.

“Saya belum bisa memberikan tanggapan lebih jauh karena masih menunggu hasil audiensi dengan PT SBI. Nanti setelah ada keputusan resmi, baru kami akan menentukan langkah selanjutnya,” katanya.

Hingga berita ini disusun sekitar pukul 15.30 WIB, proses audiensi antara perwakilan FSPMI Tuban, manajemen PT SBI, dan perusahaan vendor masih berlangsung. Massa buruh pun tetap bertahan di sekitar gerbang pabrik menantikan hasil perundingan tersebut.

Di sisi lain, pihak PT SBI belum bersedia memberikan keterangan resmi kepada awak media. Perusahaan menyatakan masih menunggu rampungnya audiensi bersama vendor dan perwakilan buruh sebelum menyampaikan sikap.

Sementara itu, aksi demonstrasi yang berlangsung di jalur Pantura Tuban turut berdampak pada arus lalu lintas. Imbas dari aksi blokade di depan perusahaan semen tersebut, arus lalu lintas di jalur nasional Pantura Tuban sempat mengalami kemacetan parah dan tersendat. (Hus/Tgb).