TUBAN Di balik magis Salawat Badar yang telah puluhan tahun yang menggema Nusantara, tersimpan kisah hidup sang mualif, KH Ali Manshur, yang jauh dari kemewahan. Kisah menyentuh ini diungkapkan putranya, Kyai Ahmad Syakir Ali, yang mengenang abahnya sebagai sosok ‘wong ndeso’ bersahaja yang masa kecilnya harus menjajakan marning dan tempe demi menyambung hidup.

“Jika ditanya siapa itu Ali Manshur penulis Salawat Badar, beliau hanya wong ndeso. Bukan orang yang memiliki banyak kelebihan (harta),” tutur Kyai Syakir Ali saat ditemui dikediamannya yang berada di Desa Maibit, Kecamatan Rengel.

Lahir di Jember pada Jumat, 23 Maret 1921 (bertepatan dengan 4 Ramadan 1340 H), tokoh yang lahir dengan nama Ali Irkham ini tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Nama Ali Manshur sendiri baru disandangnya saat dewasa usai menunaikan ibadah haji, menyelaraskan dengan nama sang ayah, Kyai Manshur, yang tertera di paspor.

Meskipun memiliki garis keturunan pemuka agama, masa kecil Kyai Ali Manshur dilalui dengan perjuangan yang getir. Demi menyambung hidup dan membantu keluarga, beliau kecil tidak malu untuk menjajakan tempe, kacang, hingga marning (jagung goreng) dengan berjalan kaki berkeliling kampung.

Bagi Kyai Ali Manshur, kemiskinan masa lalu bukanlah sebuah aib yang harus ditutupi, melainkan sebuah tempaan mental yang menjadikannya pribadi yang kokoh. Cerita perjuangan ini bahkan kerap diwariskan kepada anak-anaknya sebagai pelajaran hidup berharga.

Keterbatasan finansial sama sekali tidak mengerdilkan kecerdasan intelektual spiritualnya. Sejak usia belasan tahun, kejeniusan Kyai Ali Manshur sudah mengguncang jagat pesantren.

​Di saat remaja seusianya masih tertatih-tatih mengeja baris-baris kitab kuning, Kyai Ali Manshur muda sudah dipercaya untuk mbalah (mengajar dan mengupas) kitab di depan para santri Pondok Ashomadiyah. Sebuah pemandangan yang sangat langka pada zamannya, mengingat otoritas mengajar kitab biasanya hanya dipegang oleh kyai-kyai yang sudah sepuh.

​Kehebatan ini bahkan pernah diakui langsung oleh ulama kharismatik, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen). Kyai Syakir mengenang perkataan Mbah Moen:
​”Abahmu iku mbiyen umur welasan wes mbalah. Gedene pondok Kamagung iku ora kok mung mergo mbah Tolo.” (Ayahmu itu dulu usia belasan tahun sudah mengajar kitab. Besarnya Pondok Kamagung itu bukan hanya karena Mbah Tolo).

​Berkat keluasan wawasannya yang luar biasa, beberapa tokoh besar bahkan menjulukinya sebagai “Kitab Mlaku” atau kitab berjalan. Pengembaraan rutenya dalam menuntut ilmu membentang luas, mulai dari Banyuwangi, menyinggahi pesantren-pesantren besar seperti Ponpes Tremas Pacitan (dengan sepeda hadiah dari Kyai Ahmad Husairi), Lirboyo Kediri, Tebuireng Jombang, hingga ke Ibu Kota Jakarta.

Selain dikenal alim, Kyai Ali Manshur merupakan sosok yang sangat tertib dan disiplin. Beliau adalah seorang kutu buku yang rajin mendokumentasikan setiap jengkal perjalanan hidupnya, aktivitas harian, hingga agenda esok hari ke dalam sebuah buku harian khusus.

Namun dari semua laku hidupnya, ada satu rutinitas yang tidak pernah putus dan menjadi warisan terbaik bagi keturunannya.

“Beliau memiliki kebiasaan yang kemudian menjadi istiqomah hingga akhir hayat, yaitu ngaji,” pungkas Kyai Syakir yang kini telah menginjak usia 73 tahun tersebut.

Dari bumi Ronggolawe Tuban, keteladanan KH Ali Manshur mengajarkan kita bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari tumpukan harta, melainkan dari keteguhan tekad, ketulusan khidmah pada ilmu, dan untaian doa yang menembus langit lewat Salawat Badar. (Hus/Tgb).