– Wisuda, umumnya dilakukan di universitas, sekolah maupun pondok pesantren, akan tetapi di Kabupaten Tuban, kegiatan wisuda juga dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB kepada Warga Binaan Pemasyarakatan.

Tak tanggung-tanggung, sebanyak 58 narapidana laki-laku dan perempuan di Lapas tersebut diwisuda usai menyelesaikan pembelajaran pendidikan keagamaan di Pondok Pesantren (Ponpes) mini At-Taubah yang didirikan oleh .

Kepala Lapas Kelas IIB Tuban, Siswarno dalam sambutannya mengatakan bahwa, terdapat 53 narapidana laki-laku dan 5 orang napi perempuan yang hari ini mendapatkan ijazah kelulusan sebagai santri.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Lapas (Kalapas) Tuban memberikan ijazah kelulusan kepada 53 narapidana laki-laki dan 5 narapidana perempuan. Sementara didalam Ponpes yang didirikan sejak tahun 2019 silam itu memiliki 254 santri.

“58 napi yang diwisuda hari ini telah menyelesaikan pembelajaran keagamaannya yang terdiri dari 4 kategori kelas pendidikan,” ucap Siswarno, usai memwisuda santri di Masjid Lapas setempat, Selasa (8/3/2022).

Adapun kelas dalam Ponpes At-Taubah Lapas Tuban sendiri dibagi menjadi beberapa kategori, diantaranya ialah kelas Iqro, Al Quran, Fhasolatan, dan kelas kitab kuning.

“Dalam rinciannya, 17 orang kelas iqro, 20 orang kelas Al-Quran,15 kelas Fasholatan dan 4 orang kelas kitab kuning Safinatun Naja,” jelasnya.

Melalui Ponpes Lapas ini, lanjut Siswarno, diharapkan dapat merubah stigma negatif masyarakat umum terhadap kehidupan mereka (Napi,Red) dibilik jeruji besi. Tidak hanya mengaji, Lapas Tuban juga memberikan program pengajaran hadrah dan qosidah dengan bimbingan 3 pengajar dari Ponpes luar Lapas.

“Kami harap persepsi masyarakat umum kepada napi didalam Lapas tidak serta-merta selalu di kurung dibilik jeruji. Namun, di dalam Lapas juga ada kegiatan positif yang mendidik napi untuk kembali ke jalan lurus dan dapat berkarya,” tutur Siswarno.

Sementara itu, Muksin (41), salah seorang napi yang telah di wisuda mengaku, bahwa kegiatan pembelajaran keagamaan di lingkungan Lapas Tuban sangat bagus. Dirinya juga sebagai pengajar napi yang lain.

“Kalau saya disini sudah berjalan 2 tahun namun belajar mengaji di Lapas dari 1,5 tahun,” ucap Muksin.

Napi yang tersandung kasus PPA dan terjerat 12 tahun penjara ini juga sebelumnya menjadi santri di pondok pesantren yang berada di Jombang, sehingga dirinya sudah terbiasa mengaji dan menghatamkan Al Quran.

“Iya sebelum disini pernah mondok, alhamdulilah sudah 3 kali hatam bacaan Al Qquran,” pungasknya. (Said/Jun).

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS