TUBAN Aksi kriminalitas bermodus gendam atau hipnotis kini tengah menghantui warga Kabupaten Tuban. Bukan isu mistis seperti pocong, melainkan aksi kejahatan nyata berkedok sales atau petugas pemeriksa regulator gas LPG yang menyasar para lanjut usia (lansia) di wilayah Bumi Wali.

Dalam beberapa hari terakhir, jagat maya dan masyarakat dihebohkan dengan informasi adanya tiga orang nenek yang menjadi korban kelicikan komplotan ini. Pelaku diduga sengaja memanfaatkan kepolosan para lansia untuk menguras perhiasan dan uang tunai mereka.

Salah satu korban yang teridentifikasi adalah Tawiyah (60), seorang nenek asal Desa Senori, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Rumahnya disatroni oleh tiga orang tak dikenal yang berpura-pura menjadi petugas pengecekan perlengkapan tabung gas.

Berdasarkan keterangan dari pihak keluarga, para pelaku masuk ke dalam rumah dengan dalih ingin memeriksa bagian kabulator atau regulator kompor gas milik korban.

“Pertama masuk rumah alasannya mau periksa regulator kompor gitu,” ungkap salah seorang kerabat korban kepada awak media, Senin (25/5/2026).

Setelah berhasil memuluskan langkah awal dan masuk ke dalam rumah, aksi tipu daya pun dimulai. Pelaku mulai mempengaruhi psikologis korban dengan cara menakut-nakuti, lalu menyarankan agar korban melepas seluruh perhiasan emas yang sedang dikenakannya.

“Terus mbahe (korban) dibilangi, ‘Mbah sampean ati-ati, luwih apik perhiasane dicopoti terus disimpen, supaya nek enek petugas pendataan atau survei itu tidak tahu kalau punya perhiasan,’” imbuhnya menirukan ucapan pelaku.

Sesaat setelah menuruti perkataan pelaku, korban mendadak linglung dan tidak menyadari situasi di sekitarnya. Begitu kesadarannya kembali, korban baru menyadari bahwa sejumlah barang berharga miliknya telah digondol pelaku.

Pihak keluarga menyebutkan, barang yang raib meliputi cincin, giwang emas, serta sejumlah uang tunai yang hingga kini nominal pastinya masih dihitung. “Terus mbahe gak sadar, tiba-tiba raib semua,” sesalnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, aksi kejahatan dengan modus serupa ternyata tidak hanya terjadi di Desa Senori. Sehari sebelumnya, kejadian yang sama menimpa seorang nenek di Desa Temandang, Kecamatan Merakurak, yang juga kehilangan perhiasan serta uang tunai.

Melihat pola pergerakannya, komplotan ini disinyalir kerap beraksi pada waktu sore menjelang magrib, tepatnya antara pukul 17.00 hingga 19.00 WIB. Jam-jam tersebut dinilai rawan lantaran kondisi lingkungan mulai sepi, warga mulai lengah, dan target sering kali sedang berada sendirian di rumah.

Maraknya teror gendam ini sontak memicu keresahan mendalam di tengah masyarakat Kota Legen ini. Melalui pesan berantai, warga kini saling mengingatkan satu sama lain agar lebih waspada dan tidak mudah menerima tamu asing yang mengaku sebagai petugas resmi, terutama jika tidak dilengkapi dengan identitas atau surat tugas yang jelas.

Sementara itu, Kapolsek Merakurak, AKP Suhartono saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp mengaku sudah mendengar desas-desus mengenai kejadian yang meresahkan warga tersebut. Kendati demikian, pihaknya menyebut belum menerima laporan resmi.

“Sempat mendengar itu, namun belum ada informasi lebih lanjut dari anggota saya mas,” pungkas AKP Suhartono singkat. (Hus/Tgb).