TUBAN Pemandangan antrean di SPBU 54.623.10 Compreng, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban nampak seperti tak biasanya. Beberapa hari ini, para pengendara nampak terpaksa harus berebut jatah solar subsidi dengan barisan drum-drum besar misterius yang sudah megantre di sekitar lokasi.

Dari pantauan tim Ronggo.id pada Minggu (7/6/2026) pagi di lokasi stasiun pengisian tersebut, nampak belasan motor sudah terparkir mengantri disana. Setiap motor setidaknya membawa dua hingga empat drum besar, yang mana setiap drum setidaknya muat hingga 200 liter.

Salah seorang warga setempat, Anto meluapkan kekecewaannya atas mandeknya keadilan distribusi ini. Ia mengaku dipaksa membuang waktu produktifnya hanya demi mendapatkan hak solar subsidi.

“Setiap solar datang, antreannya langsung mengular sampai berjam-jam. Yang bikin heran, banyak sekali yang antre pakai drum,” ungkap Anto dengan nada kesal.

Ia menambahkan dari informasi yang dia terima, para pengantri yang membawa drum tersebut hendak digunakan untuk pertanian. Tetapi ia justru keheranan karena mereka nampak sama sekali tak memindai barcode.

Kehadiran drum-drum misterius yang menguasai area SPBU setiap hari ini jelas memicu kecurigaan publik. Sayangnya, aroma penyimpangan ini justru direspons dengan sikap abai oleh pihak berwenang.

Saat dikonfirmasi pada Minggu (7/6/2026), Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi memilih menutup mulut. Kemudian saat coba dikonfirmasi ulang pada Senin (8/6/2026) pihaknya juga tak kunjung memberikan jawaban atas kejadian tersebut.

Sementara itu, Pengawas SPBU Compreng juga belum memberikan tanggapan apapun mengenai kejadian itu. Keduanya seolah memilih bungkam di tengah keresahan masyarakat yang kian memuncak.

Aksi bungkam ini seolah membiarkan spekulasi liar menggelinding di masyarakat. Publik kini mendesak ketegasan aparat dan Pertamina untuk mengaudit SPBU Compreng, memastikan solar subsidi jatuh ke tangan yang berhak, bukan ke mafia atau oknum penimbun yang berlindung di balik kedok sektor pertanian. (Har/Tgb).