TUBAN Di tengah gempuran tren ramalan modern seperti zodiak dan kartu tarot yang digandrungi generasi muda di media sosial, Bumi Ronggolawe ternyata menyimpan warisan leluhur yang tak kalah memukau. Salah satunya adalah Naskah Kito Mangko, sebuah kitab ramalan kuno berusia tiga abad yang kini tersimpan rapi di Museum Kambang Putih Tuban.

Naskah ini menjadi bukti sahih bahwa masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Tuban, telah memiliki sistem kosmologi dan tradisi meramal yang sangat kuat sejak ratusan tahun silam.

Staf Museum Kambang Putih Tuban, Deni Anto, mengungkapkan bahwa Naskah Kita Mangko ini diperkirakan berasal dari abad ke-18. Uniknya, media yang digunakan bukan kertas, melainkan daun lontar kuno yang ditulis menggunakan aksara Jawa Baru.

“Total ada 72 lembar daun lontar. Setiap lembarnya memuat jenis ramalan yang berbeda-beda,” ujar Deni kepada awak media.

Beberapa ramalan yang tertera di dalamnya antara lain, Jinujung Drajat Kito Mangko yaitu amalan yang mengisyaratkan bakal adanya peningkatan derajat atau pangkat seseorang dan Lamppaheb Mangging Bencana Kito Mengko yang berisi isyarat atau pertanda datangnya suatu musibah bagi orang yang diramal.

Meski demikian, Deni mengakui ada bagian dari naskah ini yang masih menjadi misteri. Pihak museum belum mengetahui secara pasti arti harfiah dari nama “Kito Mangko” termasuk tata cara konkret penggunaan ramalannya karena tidak adanya panduan tertulis yang mendampingi objek tersebut.

“Kami hanya tahu ramalan ini berbasis pada hari kelahiran atau pakuwon jakun. Kemungkinan besar, dulu ada ahli ramal atau sesepuh khusus yang bisa membaca petunjuk di daun lontar ini, mirip-mirip pembaca tarot di era modern,” imbuh pria yang berdomisili di Kelurahan Sidorejo tersebut.

Naskah Kito Mangko disinyalir merupakan salah satu koleksi manuskrip tertua yang dimiliki Museum Kambang Putih. Keberadaannya diperkirakan sudah ada sejak periode awal berkembangnya agama Islam di wilayah Tuban.

Mengenai asal-usulnya, pihak museum tidak memiliki catatan pasti apakah benda tersebut merupakan hasil hibah masyarakat atau temuan arkeologis. Namun secara administratif, naskah ini tercatat sudah berada di Pendopo Krido Manunggal Tuban sejak tahun 1984, sebelum akhirnya diboyong ke Museum Kambang Putih pada tahun 1996 demi perawatan yang lebih baik.

Menariknya, Deni menyebutkan ada kembaran dari naskah ini yang berusia jauh lebih tua bernama Naskah Ramalan Kite Mengke. Sayangnya, koleksi tersebut tidak berada di Tuban, melainkan disimpan di Perpustakaan Nasional.

Perbedaan keduanya cukup mencolok, Naskah Kite Mangke (Perpusnas) menggunakan media bambu, ditulis dengan bahasa Sansekerta, dan masih menggunakan istilah dewata untuk menyebut Tuhan (diduga kuat berasal dari era Hindu-Buddha). Naskah Kito Mangko menggunakan media daun lontar dan ditulis dengan aksara Jawa Baru (era Islam).

Hingga saat ini, Museum Kambang Putih Tuban tercatat telah mengoleksi lebih dari 50 naskah kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah di pesisir utara Jawa ini.

Deni menyayangkan minimnya perhatian generasi muda terhadap kekayaan literasi kuno ini. Popularitas ramalan lokal ini kalah pamor dari tren mistisisme barat atau modern yang berseliweran di gadget anak muda saat ini.

“Sekarang di media sosial yang ramai kan tarot dan zodiak. Jarang sekali anak muda yang tahu kalau kita di Tuban punya warisan tradisi ramalan sendiri yang bernilai sejarah tinggi,” pungkasnya. (Hus/Tgb).