TUBAN — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas III Kabupaten Tuban mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda wilayah Tuban sepanjang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Hujan lebat disertai angin kencang berpotensi terjadi di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat pada akhir tahun.
Kepala Stasiun BMKG Kelas III Tuban, Muchammad Nur, mengatakan bahwa potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat diprakirakan turun terutama pada siang hingga sore hari.
Peringatan tersebut sejalan dengan rilis BMKG Juanda yang menetapkan sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Tuban, dalam status waspada cuaca ekstrem pada 21–31 Desember 2025.
“Selama periode libur Nataru, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, hingga risiko banjir dan tanah longsor,” ujar Nur saat dikonfirmasi Ronggo.id melalui pesan singkat, Selasa (23/12/2025).
BMKG mencatat, kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh kombinasi sejumlah fenomena atmosfer. Pertama, aktifnya Monsun Asia yang membawa massa udara basah dari Benua Asia ke wilayah Indonesia.
Kedua, keberadaan bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia selatan Jawa Barat yang turut meningkatkan intensitas hujan dan memicu kenaikan tinggi gelombang di perairan Jawa Timur dan ketiga, suhu muka laut yang relatif hangat di Selat Madura, yang mendukung pembentukan awan hujan secara intensif.
Dengan karakter wilayah Tuban yang dilintasi jalur utama pantura serta memiliki sejumlah destinasi wisata alam, BMKG mengingatkan masyarakat agar ekstra waspada, terutama saat melintas di kawasan rawan seperti perbukitan, tebing, dan jalur dengan pepohonan besar.
“Hujan lebat berpotensi menyebabkan jalan licin, jarak pandang menurun, hingga pohon tumbang. Masyarakat yang bepergian kami imbau untuk selalu memperhatikan kondisi cuaca,” kata Nur.
Ia menambahkan, saat ini seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan, bahkan beberapa daerah mulai mendekati puncaknya.
“Oleh karena itu, pemantauan informasi cuaca secara berkala menjadi penting agar aktivitas dan perjalanan selama libur akhir tahun tetap aman,” terangnya.
BMKG juga mencatat bahwa puncak musim hujan di Jawa Timur diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2026. Dengan demikian, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem menjelang pergantian tahun. (Hus/Tgb).
