TUBAN — Pemerintah Kabupaten Tuban terus menguatkan strategi percepatan penurunan stunting, seiring dengan komitmen nasional untuk mencapai target prevalensi stunting nasional 14% pada tahun 2024.

Dalam kunjungan lapangannya ke Kecamatan Grabagan, Wakil Bupati Tuban, Drs. Joko Sarwono, didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Tuban, Ayuk Krisnawati Joko Sarwono, memberikan pengarahan langsung kepada lintas sektor wilayah untuk mempercepat penanganan kasus stunting, Rabu (23/7/2025).

Berdasarkan data e-PPGBM Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, angka prevalensi stunting di Grabagan mencapai 20,6% pada semester I tahun 2025, lebih tinggi dari rata-rata kabupaten yang berada di kisaran 15,2%. Kecamatan ini termasuk dalam 6 wilayah dengan prevalensi tertinggi di Tuban, bersama Kecamatan Kerek, Montong, dan Senori.

“Kami tidak ingin ada satu pun wilayah yang tertinggal. Kecamatan Grabagan akan menjadi fokus intervensi terpadu dengan pendekatan berbasis data dan keluarga sasaran,” tegas Wabup Joko.

Wabup menyebut bahwa strategi terbaru Pemkab Tuban mengarah pada intervensi hulu: mencegah lahirnya bayi stunting. Sasaran program diarahkan pada:

  • Remaja putri dan calon pengantin: melalui skrining anemia dan edukasi gizi.
  • Ibu hamil dan menyusui: pemenuhan gizi mikro dan makro, serta pendampingan kehamilan.
  • Balita gizi kurang dan keluarga rentan: pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal, posyandu aktif, dan kunjungan rumah.

Puskesmas Keliling (PANGuLing): layanan kesehatan terjadwal ke desa-desa dengan hambatan akses fasilitas kesehatan, mencakup 12 desa di Grabagan.

Stop Anemia Remaja Putri dengan Minum Tablet FE (SMILE), distribusi rutin tablet tambah darah ke 5 SMP dan 2 MA dengan cakupan lebih dari 470 remaja putri, termasuk edukasi gizi dan kesehatan reproduksi.

Kepala Puskesmas Grabagan mencatat, setelah dua tahun pelaksanaan SMILE, kasus anemia di kalangan remaja menurun dari 36% (2022) menjadi 22% (2024).

Plt. Camat Grabagan, Sucipto, menyampaikan, penanganan stunting di wilayahnya dijalankan secara kolaboratif oleh:

  • Pemerintah desa dan kader posyandu,
  • PKK desa dan kecamatan,
  • TNI/Polri melalui program bakti sosial dan dapur sehat,
  • KUA dengan pendampingan pranikah,
  • Dan tentu saja Puskesmas serta petugas gizi.

“Kami butuh dukungan tambahan dari kabupaten agar inovasi lokal ini diperluas. Target kami, angka stunting Grabagan bisa ditekan hingga di bawah 15% tahun depan,” ujar Sucipto.

Pemkab Tuban mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 5 miliar melalui program intervensi spesifik dan sensitif di bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar untuk stunting pada tahun 2025.

Selain itu, Dana Desa tahun 2025 mewajibkan alokasi minimal 20% untuk program penanganan stunting, sesuai dengan Permendesa PDTT No. 13 Tahun 2023. Untuk Kecamatan Grabagan, total Dana Desa tahun ini mencapai Rp 13,4 miliar, dengan proyeksi minimal Rp 2,6 miliar difokuskan untuk stunting.

Ketua TP PKK Kabupaten Tuban, Ayuk Krisnawati, menegaskan pentingnya konsistensi lintas sektor untuk memastikan anak-anak di Tuban tumbuh sehat, cerdas, dan produktif.

“Pencegahan stunting adalah jalan menuju generasi emas Indonesia. Kalau ingin anak-anak kita kompetitif pada 2045, kita harus mulai dari hari ini. Dari rumah, dari posyandu, dari desa,” tegasnya. (Jun/Tgb).