TUBAN – Genangan air di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban, kembali memantik amarah warga. Selama bertahun-tahun mereka mengadu, tapi tak juga ada perbaikan dari pemerintah daerah.

Di antara nisan yang dikelilingi air setinggi mata kaki, Bejo (60) tampak sibuk menata batu kembung di jalan setapak yang akan dijadikan pijakan menuju makam keluarganya.

“Sudah sekitar sepuluh tahun kondisinya begini. Kami sudah lapor berkali-kali, tapi tak ada tindak lanjut,” ujarnya, Rabu (29/10/2025).

Menurut Bejo, genangan air di kompleks pemakaman mulai terjadi sejak pembangunan plengsengan sungai di dekat lokasi sekitar satu dekade lalu. Proyek itu, katanya, mangkrak dan tak pernah dilanjutkan hingga sekarang.

“Sejak itu aliran air tidak lancar. Begitu hujan deras, makam langsung tergenang,” tutur pria yang akrab disapa Mbah Jo itu.

Setiap Kamis atau Jumat, ia bersama warga lain bergotong-royong membersihkan area makam dan membuat jalan setapak dari batu yang dibeli secara mandiri. Namun, upaya mereka tak banyak menolong. Tak jarang para peziarah harus membatalkan niat karena area pemakaman dipenuhi air.

“Hampir tiap minggu saya ke sini, bersih-bersih atau sekadar bikin akses supaya orang masih bisa berziarah,” katanya lirih.

Keluhan serupa disampaikan Ketua RT 02 Kelurahan Mondokan, Nur Hasan. Ia mengaku sudah berulang kali meneruskan aduan warga ke pihak kelurahan, bahkan ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, hasilnya nihil.

“Sudah kami teruskan ke pemerintah kelurahan. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Padahal ini fasilitas umum yang mestinya jadi prioritas. Minimal bisa dibantu dulakukan pembersihan area,” ujar Hasan.

Pihak Kelurahan Mondokan tak menampik keluhan itu. Lurah Adit Darmawan mengatakan, persoalan tersebut sudah lama diusulkan dalam berbagai forum perencanaan pembangunan (Musrenbang), namun belum juga ditindaklanjuti oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tuban.

“Kami sudah berkali-kali ajukan pembangunan drainase dan perbaikan plengsengan ke Dinas PU. Bahkan sebelum saya menjabat, usulan itu sudah ada,” kata Adit.

Ia menegaskan, wilayah yang terdampak banjir bukan hanya TPU Mondokan, tapi juga mencakup tiga kelurahan lain di jalur aliran sungai yang sama, dari Perbon hingga Desa Sugiharjo. Menurutnya, pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di lokasi itu merupakan proyek besar yang berada di bawah kewenangan Dinas PU, bukan kelurahan.

“Kalau itu ranah kelurahan, sudah kami kerjakan. Tapi saluran air itu besar, dan beberapa bagian sudah longsor,” ujarnya.

Hingga kini, pihak kelurahan mengaku masih menunggu tindak lanjut dari dinas teknis. Adit berharap, Pemkab Tuban segera menjadikan proyek drainase di wilayahnya sebagai prioritas. Karena jika dibiarkan, tidak hanya kompleks makam yang tergenang, tetapi bisa merembet ke pemukiman warga.

“Saya berharap kepada masyarakat agar tetap dan bersabar, karena beberapa hari lalu, tim dari Dinas PU sudah turun untuk mengecek ke lapangan. Semoga tahun ini atau paling lama tahun depan bisa segera dilakukan perbaikan,” katanya.

Sementara itu, Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR dan PRKP Kabupaten Tuban, Ichwan Sulistyo, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi terkait persoalan tersebut. (Jun/Tgb).