TUBANNampaknya dunia konstruksi di Kabupaten Tuban harus mengalami pembengkakan biaya yang signifikan, akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Setelah tarif industri beton dan jasa konstruksi melonjak hingga 20 persen, kini harga sewa alat berat ikut merangkak naik.

Tren ini diperkirakan bakal meningkatkan anggaran belanja pembangunan daerah secara drastis. Kondisi tersebut menempatkan para pengusaha konstruksi lokal dalam posisi dilematis, antara terpaksa menaikkan nilai penawaran proyek atau memangkas margin keuntungan demi menjaga kelangsungan usaha.

Selain dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, ketidakstabilan harga BBM juga menjadi faktor utama terjadinya efek domino ekonomi ini. Sebagai gambaran, kenaikan harga Pertamax yang sempat menyentuh Rp16.250 per liter telah memberikan dampak luas pada perekonomian warga.

Meskipun operasional alat berat tidak mengonsumsi Pertamax, lini bisnis ini tetap terdampak serius akibat melonjaknya harga Pertamina Dex serta kenaikan harga Biosolar non-subsidi. Kondisi inilah yang memaksa para pemilik jasa rental untuk menaikkan tarif sewa unit mereka.

Dampak nyata dari mahalnya BBM non-subsidi ini diakui langsung oleh Moch. Agus Setiyo. Pria yang menggeluti bisnis rental alat berat ini menyebutkan bahwa operasional ekskavatornya sangat bergantung pada stabilitas harga bahan bakar tersebut.

Langkah penyesuaian tarif sewa unit tersebut terpaksa diambil oleh Agus demi menjaga keberlangsungan usaha dan menghindari potensi kerugian finansial yang lebih besar di masa mendatang.

“Untuk sewa ini kita sesuaikan, soalnya kita ini rentalnya bukan hanya alat tetapi all-in artinya kita rental mulai dari BBM hingga operator. Jadi sangat berimbas sekali apabila BBM non-subsidi ini ada kenaikan,” keluh Agus saat di wawancarai di kantornya.

Agus menyebut kenaikan harga Bio Solar non-subsidi maupun Pertamina Dex ini tergolong sangat tinggi, sehingga operasional unitnya harus disesuaikan. Bahkan, lonjakan harga tersebut mencapai sekitar 25 persen dibandingkan sebelum adanya kenaikan bahan bakar.

“Dulu kita juga melayani petani di sekitar Rengel, Grabagan dan Soko, Mas, untuk membuat guludan tapi sekarang ini karena adanya kenaikan sampai 25 persen ini mereka berpikir ulang dan kadang memilih untuk melakukan secara manual,” tambahnya.

Sepinya peminat sewa alat berat juga membuat pria asal Kecamatan Rengel ini mencemaskan nasib para operatornya. Saat ini, para pekerja tersebut terpaksa menganggur sementara waktu sambil berharap ada proyek baru yang membutuhkan jasa mereka.

“Dulu setiap hari dua sampai tiga alat kita ada yang keluar tapi sekarang ini sangat sepi, Mas, apalagi proyek-proyek pemerintah sekarang juga terkena dampak efisiensi,” tutup Agus.

Dilema para pengusaha di Kota Legen ini menjadi bukti nyata efek domino kenaikan BBM non-subsidi. Jika efisiensi proyek pemerintah terus berlanjut tanpa solusi, mandeknya pembangunan daerah dan lonjakan pengangguran sektor informal kini tinggal menunggu waktu. (Hus/Tgb).