TUBAN Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memicu efek domino di tingkat daerah. Di Kabupaten Tuban, industri beton dan penyedia jasa konstruksi kini tengah bersiap menghadapi lonjakan harga akibat melambungnya biaya bahan baku utama.

​Para pelaku usaha beton di Bumi Ronggolawe memprediksi harga jual produk beton akan mengalami penyesuaian hingga mencapai 20 persen dalam waktu dekat. Komoditas semen menjadi komponen pertama yang paling terdampak dan sudah mulai merangkak naik di tingkat pemasok.

​Pengusaha beton asal Tuban, Novi Nikmah mengungkapkan, sejauh ini harga beton di pasaran memang masih cenderung stabil. Kendati demikian, ia telah menerima informasi dari pihak penyuplai bahwa perubahan harga akan mulai diterapkan dalam hitungan pekan.

​”Kemungkinan bulan depan sudah ada kenaikan harga,” kata Novi saat dikonfirmasi, Selasa (16/6/2026).

​Novi menambahkan, angka kenaikan 20 persen tersebut berpotensi terjadi jika tren pembengkakan biaya produksi terus berlanjut. Saat ini baru komoditas semen yang merasakan dampak signifikan, namun bahan material pendukung lainnya diprediksi akan segera menyusul.

​”Sementara yang sudah terasa baru semen. Namun kemungkinan bahan-bahan lain juga akan ikut menyesuaikan,” imbuhnya.

​Kondisi ini tentu menjadi alarm bagi sektor konstruksi lokal. Sebagai material vital dalam proyek fisik, baik skala perumahan maupun infrastruktur daerah kenaikan harga beton dipastikan bakal mendongkrak total biaya pembangunan.

Lonjakan biaya sebesar 20 persen ternyata tidak hanya melanda industri beton, melainkan juga merambah ke sektor jasa konstruksi atau kontraktor. Faiz, seorang karyawan di salah satu perusahaan konstruksi, membenarkan adanya fenomena kenaikan yang serupa di bidang penyedia jasa pembangunan tersebut.

Menurut Faiz, imbas melemahnya nilai rupiah terlihat dari kenaikan harga material tertentu. Kenaikan tersebut diikuti dengan menurunnya minat pelanggan yang hendak menggunakan jasa pembangunannya.

“Beberapa contoh klien sebelumnya yang awalnya ingin membangun rumah mulai dari nol, akhirnya hanya sampai proses desainnya saja,” pungkasnya.

​Sinyal kenaikan pada paruh kedua tahun 2026 ini mengharuskan para kontraktor maupun masyarakat yang hendak membangun atau merenovasi rumah untuk segera menghitung ulang rencana anggaran biaya (RAB) demi menghindari pembengkakan dana. Di sisi lain, para pelaku usaha berharap stabilitas ekonomi makro bisa segera pulih agar beban sektor konstruksi tidak semakin berat. (Hus/Tgb).