TUBAN — Setelah keluhan bertahun-tahun dari warga, pemerintah akhirnya mulai bergerak. Petugas dari Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR dan PRKP Kabupaten Tuban turun ke lapangan untuk membersihkan aliran sungai di belakang Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang selama ini menyebabkan genangan di komplek makam Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban.
Langkah ini diambil setelah laporan warga disorot media. Lurah Mondokan, Adit Darmawan, menyebut penanganan itu merupakan hasil dari koordinasi antara masyarakat, kelurahan, dan anggota DPRD Tuban.
“Terima kasih atas respon cepat dari Dinas PU. Setelah ada aduan masyarakat dan ditindaklanjuti Pak Sis dari dewan, tim SDA langsung turun. Hari ini dilakukan pembersihan sungai agar luapan air bisa berkurang,” ujar Adit, Kamis (30/10/2025).
Adit berharap, langkah darurat ini tidak berhenti di sebatas pembersihan. Ia menekankan pentingnya pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) atau plengsengan permanen untuk menahan debit air di musim hujan.
“Kami tetap mendorong agar proyek perbaikan bisa direalisasikan pada 2026. Jangan hanya pembersihan sementara, tapi juga pembangunan drainase baru dan pengangkatan sedimen agar aliran air benar-benar lancar,” tambahnya.
Anggota Komisi I DPRD Tuban, Siswanto, yang ikut meninjau lokasi, menilai persoalan banjir makam ini sudah terlalu lama dibiarkan. Jika terus diabaikan, dampaknya akan semakin luas dan bisa merembet ke pemukim warga.
“Menjelang musim hujan, kami temukan saluran yang meluap ke area makam. Aspirasi warga sudah kami sampaikan ke PUPR dan mereka bergerak cepat. Tapi ini harus berlanjut pada perbaikan fisik, bukan sekadar pembersihan,” katanya.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menyebut, sisa saluran drainase sepanjang 200 meter di kawasan Mondokan perlu segera direncanakan pembangunannya.
“Kami dorong agar ini masuk dalam APBD 2026, atau minimal P-APBD tahun depan. Targetnya, aliran dari Jalan Letda Sucipto hingga Kali Avur di Dusun Jembel, Desa Sugihwaras, bisa tuntas, sehingga kawasan Mondokan dan Perbon terbebas dari banjir,” ujarnya.
Sebelumnya, Ronggo.id melaporkan kondisi makam Mondokan yang selama hampir satu dekade terendam air setiap musim hujan. Warga seperti Bejo (60), bahkan harus membuat jalan setapak dari batu secara mandiri agar para peziarah bisa melintasi kuburan yang berubah menjadi genangan.
“Sudah sepuluh tahun kami mengadu, tapi baru sekarang terlihat gerak nyata. Apapun itu, saya tetap berterima kasih atas respon pemerintah,” kata Bejo dengan nada lega.
Warga berharap langkah Dinas PU kali ini menjadi awal perbaikan permanen, bukan sekadar penanganan sementara yang hilang setelah genangan surut.
Namun hingga berita ini diturunkan, Kepala Bidang SDA Dinas PUPR dan PRKP Kabupaten Tuban, Ichwan Sulistyo, belum memberikan keterangan resmi terkait rencana tindak lanjut pembangunan permanen tahun depan. (Jun/Tgb).
