, (Ronggo.id) – Ketua DPD Aditya Halindra Faridzky merespon soal sejarah kelam yang sempat disinggung olah Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jawa Timur.

Putra mantan ini menyebut, konflik relasi sosial seperti yang terjadi pada Pilkada 2006 yang masuk dalam isu kerawanan jelang Pemilu 2024 ini tentu sudah melalui kajian dan berbagai pertimbangan.

“Namanya itu adalah suatu sejarah, mungkin beliau (Bawaslu) takut sehingga belajar dari sejarah. Dan semoga saja tidak ada,” ucap politisi muda yang kini menjabat sebagai Bupati Tuban, Kamis (14/9/2023).

Sementara itu, Ketua DPC menjelaskan, konflik di Pilkada 17 tahun silam itu merupakan sejarah dan pembelajaran yang tidak perlu terulang. Oleh karenanya, politisi senior yang juga Ketua DPRD Tuban itu berharap konstelasi politik 5 tahunan harus dilaksanakan secara fair play, sehingga proses demokrasi berjalan dengan baik.

“Pilkada 2006 adalah sejarah bagi Tuban yang harus diambil pelajaran. Kita berharap di tahun-tahun mendatang tidak terulang,” terangnya.

Miyadi menegaskan, bahwa pesta demokrasi yang dimenangkan pasangan Heli (Haeny Relawati Rini Widyastuti – Lilik Soehardjono) kala itu sebagai pembelajaran bersama, bagaimana menyampaikan aspirasi, baik individu maupun secara umum.

“Dari sejarah itu yang perlu dikilas balik ialah faktor pengalaman agar tidak terjadi di tahun-tahun berikutnya, sehingga situasi tetap aman, damai dan tidak anarkis dalam bersuara,” tegasnya.

Sebelumnya, Komisioner Bawaslu Jatim, Divisi SDM dan Organisasi Nur Elya Anggraeni menyinggung sejarah kelam Pilkada Tuban tahun 2006 saat ditanya soal potensi kerawanan jelang Pemilu 2024.

Ely mengungkapkan, bahwa potensi kerawanan di tiap daerah berbeda-beda, tetapi yang menjadi fokus pengawasan, yaitu money politik, netralitas birokrasi, TNI, Polri serta isu Sara.

“Itu yang menjadi fokus pengawasan kita di Pemilu 2024,” beber mantan jurnalis itu, Selasa (12/9/2023).

Ely menyatakan, potensi kerawanan lain yang perlu diwaspadai adalah konflik relasi sosial, terlebih di Kabupaten Tuban yang memiliki sejarah kelam dalam kontestasi Pilkada yang berlangsung pada April 2006.

“Kalau di Tuban kita punya sejarah Pilkada yang kurang menyenangkan di tahun 2006,” bebernya.

Kilas Balik Pilkada Tuban Tahun 2006

Diketahui, Pilkada atau Pemilihan Bupati Tuban tahun 2006 terjadi duel antara pasangan Noor Nahar Hussein – Go Tjong Ping melawan pasangan Haeny Relawati Rini Widyastuti – Lilik Soehardjono.

Kubu Nonstop sebutan pasangan duet Noor Nahar Hussein – Go Tjong Ping yang diusung PDIP dan PKB meruap suara 48,26 suara. Sedangkan Incumbent Haeny – Lilik (Heli) yang dijagokan Partai Golkar berhasil unggul tipis dengan suara 51,74 persen.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, diduga karena tak puas dengan hasil perhitungan suara, ribuan massa lantas menggelar aksi turun jalan untuk menuntut agar Pilkada diulang.

Belakangan, aksi tersebut berakhir ricuh hingga terjadi pengerusakan Kantor KPU dan Pendopo Tuban. Bahkan kediaman pribadi Haeny juga tak luput dari amukan massa.

Tak hanya rumah, sejumlah properti milik orang tua Aditya Halindra Faridzky turut jadi sasaran, seperti Hotel Mustika, Gudang 99 serta kendaraan. (Ibn/Jun).

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS