TUBAN – Menu baru yang diberikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Montongsekar, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban justru berbuah petaka. Setidaknya 14 siswa harus dilarikan menuju ke Puskesmas terdekat usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), pada Selasa (27/1/2026) kemarin.

Sebelumnya, belasan siswa itu berbondong-bondong datang menuju fasilitas kesehatan di Desa Montongsekar setelah menyantap menu ikan pindang dengan sayur asem. Siswa-siswi itu mengalami gejala seperti mual, pusing dan ruam merah di beberapa bagian tubuhnya.

Dari data yang dihimpun oleh tim Ronggo.id menyebutkan, SMPN 1 Montong sendiri mendapat jatah setidaknya 663 penerima manfaat dengan rincian sebanyak 621 siswa dan 42 guru. Biasanya ratusan porsi itu dibagikan pihak sekolah sekitar pukul 11.00-11.15 wib, menyesuaikan dengan jadwal pembelajaran siswa-siswi.

Wakil Kepala (Waka) Kesiswaan, Ima Rohyani mengungkapkan bahwa menu yang disajikan pada hari itu merupakan menu ikan laut pertama di sekolah tersebut. Hal itu dimaksudkan sebagai upaya untuk mewujudkan menu makanan yang bervariasi untuk menghindari kebosanan siswa.

“Kalau untuk bau dan lain-lain itu tidak ada sama sekali, Mas, memang makanan kemarin itu layak dikonsumsi. Tapi menunya itu baru pertama kali dari ikan laut,” kata Ima Rohyani saat ditemui di sekolah, Rabu (28/1/2026).

Pihak sekolah memiliki kewenangan untuk menolak apabila kualitas atau porsi makanannya dianggap tidak memenuhi standar. Sebagai langkah antisipasi, sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Pakel, Montongsekar tersebut berencana untuk tidak menerima kiriman menu yang berbahan dasar ikan laut.

“Kedepan kami akan menolak menu dari ikan laut, tujuannya sebagai langkah antisipasi agar kejadian seperti ini tak kejadian lagi,” jelasnya.

Ima melanjutkan saat itu para siswa-siswinya kebanyakan mengeluhkan kondisi yang sama yakni ruam merah disertai rasa pusing. Pihaknya sendiri menduga mereka bukan keracunan makanan, melainkan mengalami alergi dari makanan tersebut.

Wanita berkacamata itu juga mengungkapkan siswa-siswi terdampak saat ini sudah ada yang masuk sekolah. Dari 14 siswa yang terdampak, delapan diantaranya sudah aktif mengikuti pembelajaran. Bahkan salah satunya sudah mengikuti latihan sebagai pemimpin upacara untuk hari senin besok.

“Saat ini tinggal enam anak saja yang belum bisa masuk sekolah, mereka sudah sehat tapi masih perlu istirahat guna pemulihan,” tandasnya.

Waka kesiswaan SMPN 1 Montong itu menegaskan pihak sekolah juga tak memaksa para siswa-siswinya untuk menyantap makanan dari program andalan Presiden Prabowo Subianto itu. Bahkan sebelum pembagian beberapa siswa diberikan kebebasan untuk menolaknya.

“Untuk pembagian hari ini kita komunikasikan dulu kepada para siswa, dan mereka tetap setuju MBG dibagikan,” ujarnya.

Harapannya, pihak dapur sendiri kedepannya bisa lebih memperhatikan kondisi bahan yang akan digunakan. Selain itu, pihak dapur dapat lebih memprioritaskan kondisi kesehatan siswa-siswi penerima manfaat dari program yang menguras APBN sekitar Rp300 Triliun.

“Kepada para orang tua, kami selaku pihak sekolah tidak pernah memaksa para siswa untuk menerima dan mengonsumsi MBG. Selain itu, diharapkan orang tua juga memberikan arahan kepada anak untuk mengecek makanan terlebih dahulu sebelum menyantapnya,” pungkasnya.

Pihak sekolah juga telah menjalin komunikasi dengan SPPG pasca insiden tersebut. Ia menilai pemilik dapur bersikap kooperatif dan menyatakan bertanggung jawab atas seluruh proses penanganan medis para korban.

Sementara itu saat hendak di konfirmasi, Kepala SPPG Montongsekar, Maklus belum memberikan tanggapan apapun terkait permasalahan itu. Saat pewarta mencoba menemuinya di lokasi dapur pada Rabu (28/1/2026), beberapa karyawan tak tahu menahu keberadaan pimpinannya. Mereka beralasan hanya bertugas mencuci ompreng saja. (Hus/Tgb).