TUBAN – Meski sudah kantongi izin Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Montongsekar, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban masih juga bikin siswa-siswi SMPN 1 Montong tumbang, Selasa (27/1/2026) kemarin.
Setidaknya ada 14 siswa yang dilarikan menuju salah satu fasilitas kesehatan (faskes) di Kecamatan Montong setelah merasa mual, pusing dan ruam merah usai menyantap porsi makan siang gratis itu. Belasan siswa itu semuanya mengalami gejala yang sama.
Sebelumnya, salah satu anggota DPRD Tuban dari Komisi III, Luqmanul Hakim menyoroti dengan tajam perihal kasus di Montongsekar itu. Dia menekankan untuk mengevaluasi proses pengawasan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait selama ini.
Menanggapi perihal tersebut, Plt Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, Roikan melalui Sekretaris Dinas (Sekdin), Atiek Supartiningsih mengatakan SPPG tersebut sudah mengantongi izin SLHS.
Atiek juga menepis anggapan bahwa Dinkes menutup-nutupi kejadian itu seperti yang telah diberitakan sebelumnya. Menurutnya, pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab para siswa-siswi SMP Montong itu tumbang. Alasannya sendiri masih menunggu proses pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Kesehatan (Labkes).
“Karena hasil pemeriksaan sampel belum keluar, jadi kami tidak bisa menyimpulkan. Menunggu hasil labnya saja,” kata Atiek Supartiningsih saat dikonfirmasi, Jumat (30/1/2026).
Atiek sapaan akrabnya menjelaskan pihaknya juga telah secara berkala melakukan sampling makanan dan edukasi melalui Puskesmas sekitar. Tujuannya sendiri agar kasus-kasus yang tidak diinginkan dapat diminimalisir dan program gagasan Presiden Prabowo Subianto itu bisa berjalan sebagaimana mestinya.
“Kalau untuk Ahli gizi di semua SPPG sudah ada, bahkan kami juga rutin melakukan edukasi kepada para ahli gizi ini untuk terus mengedepankan kebersihan bahan baku, air dan tempat lingkungan memasak,” tambahnya.
Sekdinkes P2KB Tuban itu melanjutkan, meski diberikan wewenang pengawasan, pihaknya tak bisa mengawasi distribusi bahan mentah. Pihaknya hanya sebagai pemantauan kualitas bahan yang akan digunakan untuk memasak.
“Kami fokus untuk kualitas bahannya. Sebenarnya kalau untuk bahan sendiri aturannya juga sudah ada, seperti bahan harus segar, lama penyimpanan dan lain sebagainya. Pedoman dan aturannya ada,” jelasnya.
Atas kejadian tersebut pihaknya juga berharap kepada semua pihak untuk ikut mengawasi. Selain itu, SPPG untuk memperhatikan betul kondisi makanan dari mulai proses pemasakan hingga sampai di tangan para siswa-siswi.
“Perlu kolaborasi dari semua pihak, satgas juga harus melakukan pengawasan, koordinasi dan edukasi serta evaluasi terus kedepan agar kejadian seperti ini tak terjadi lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Montongsekar, Maklus masih juga belum memberikan tanggapan apapun terkait dengan permasalah tersebut. (Hus/Tgb).
