TUBAN – Tersimpan rapi di balik kaca transparan Ruang Etnografi Museum Kambang Putih Tuban, artefak kayu jati kuno bernama Kalpataru berdiri kokoh sebagai salah satu mahakarya kebanggaan warga Bumi Wali.

Peninggalan yang diperkirakan berasal dari abad ke-15 ini bukan sekadar kayu tua pengisi ruang pamer museum. Artefak ini merupakan saksi bisu kejayaan seni dan budaya Jawa-Islam pada masa dakwah Wali Songo, khususnya Sunan Bonang, saat Islam mulai berakar kuat di wilayah pesisir utara Jawa.

Secara filosofis, detail ukiran Kalpataru menyimpan makna mendalam tentang kesuburan, simbol kehidupan, serta keharmonisan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Staf Museum Kambang Putih Tuban, Deni Anto, menceritakan bahwa secara historis keberadaan Kalpataru bermula dari Pendopo Rante yang berlokasi tepat di sebelah barat kompleks Makam Sunan Bonang.

Sebelum era 1980-an, masyarakat dan peziarah menganggap artefak ini memiliki daya magis tinggi. Dampaknya, area sekitar Kalpataru sering dijadikan tempat ritual pemujaan atau “pohon harapan”, dimana dulunya para peziarah memanjatkan doa, menabur sajen, membakar dupa, hingga melempar uang koin.

Guna mencegah kerusakan fisik serta menghentikan praktik ritual yang menyimpang, pemerintah daerah mengambil langkah tegas pada tahun 1984. Kalpataru secara resmi dipindahkan ke Museum Kambang Putih agar lebih terawat dan dapat dipelajari dari sisi keilmuan serta sejarah.

Secara visual, Kalpataru memiliki empat cabang utama yang dipenuhi pahatan tingkat tinggi. Uniknya, artefak ini menjadi bukti otentik tingginya nilai akulturasi dan toleransi beragama pada masa lampau.

“Pada ukiran tersebut, terpahat perpaduan simbol tempat peribadatan dari empat ajaran keagamaan, yakni Islam, Hindu, Buddha, dan Tri Dharma,” tuturnya.

Selain mengandung unsur keagamaan, Kalpataru juga menyimpan jejak kepercayaan masyarakat pada masa animisme purba. Jejak tersebut salah satunya tergambar melalui ukiran arca primitif berbentuk figur manusia dalam posisi jongkok. Pada masa pra-Islam, arca dengan bentuk serupa diyakini digunakan sebagai sarana pemujaan terhadap roh atau arwah leluhur.

“Keragaman motif pada Kalpataru semakin kaya dengan hadirnya ornamen alam, mulai dari rimbunnya pepohonan hingga figur satwa mitologis seperti singa dan naga,” pungkas Deni.

Perpaduan berbagai ragam hias dalam satu artefak berbahan kayu jati tersebut menjadi gambaran kuat tentang perjumpaan berbagai kebudayaan dan kepercayaan yang pernah berkembang di Kota dengan seribu goa ini. Kalpataru juga merekam nilai-nilai spiritual serta tingginya keterampilan seni ukir yang diwariskan dalam perjalanan sejarah peradaban masyarakat setempat. (Hus/Tgb).