TUBAN – (Ronggo.id), Dalam beberapa hari terakhir harga jual komoditi rajungan ditingkat nelayan terus merosot, tak terkecuali di Kabupaten Tuban. Kondisi ini membuat sejumlah nelayan resah lantaran penghasilan mereka ikut berkurang.

Seorang nelayan dari Desa Socorejo, Kecamatan Jenu, Sukri (55) mengatakan, saat ini hasil tangkapannya dibeli oleh pengepul dengan harga 40 ribu, padahal sebelumnya harga rajungan menyentuh 100 hingga 125 ribu perkilogramnya.

“Harga mulai turun setelah lebaran kemarin, dan sudah berlangsung hampir satu bulan. Memang tidak langsung anjlok, tapi bertahap dan sekarang hanya tinggal 40 ribu,” katanya, Kamis (2/6/2022).

Sukri tidak menampik bahwa belakangan ini jumlah tangkapnya meningkat. Kendati demikian, dengan harga jual segitu, menurutnya masih belum sebanding dengan biaya operasional maupun tenaga yang dikeluarkan.

Ia merinci, sekali berangkat melaut membutuhkan 10 hingga 12 liter BBM jenis solar, karena jarak untuk memasang alat tangkapnya kurang lebih 10 mil dari pesisir pantai. Kemudian biaya untuk membeli umpan yang nilainya juga tidak sedikit.

“Mau gimana lagi, sudah resiko pekerjaan, tapi kalau harganya segini terus, tentu nelayan yang susah, sebab ongkos melaut juga cukup besar. Semoga harganya bisa kembali normal,” keluhnya.

Nelayan tradisional lainnya, Joko (45) warga Kelurahan Karangasari, Kecamatan Tuban mengungkapkan, sejak harga rajungan turun drastis, ia lebih lebih memilih menyandarkan perahunya di bibir pantai dari pada pergi melaut, sembari membantu istrinya berjualan.

Berbeda dengan Sukri yang menggunakan alat tangkap bubu. Selama ini Joko mengaku masih menggunakan jaring untuk mendapatkan rajungan, sehingga hasil yang didapat tidak seberapa, antara 2 sampai 5 kilogram dalam sehari.

“Apalagi kalau satu perahu diisi dua orang, tentu hasil penjualannya harus dibagi, belum lagi untuk beli BBM,” ujarnya.

Sementara itu, Suliah (48) pengepul rajungan asal Desa Socorejo mengatakan, berdasarkan informasi yang ia dengar, permintaan ekspor yang rendah ditengarai menjadi salah satu penyebab harga rajungan terjun bebas.

“Kalau secara pasti belum tahu, hanya saja, kabar dari pihak pabrik rembang, harga rajungan turun karena permintaan ekspor ke luar negeri berkurang, sedangkan stok melimpah,” pungkasnya. (Ibn/Jun).

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS