TUBAN – Ketua Komite SMP Negeri 1 Tuban, Luqman, menanggapi isu miring yang menggeret nama sekolahnya itu. Menurutnya, pembayaran kegiatan Outdoor Learning (ODL) yang terpotong karena alasan membayar uang muka di awal itu merupakan hal yang wajar.

Sebelumnya, para wali murid yang tak mau disebutkan namanya mempertanyakan keterbukaan pemangkasan biaya study tour yang gagal dilaksanakan. Gagalnya pelaksanaan kegiatan itu sendiri disinyalir karena adanya surat edaran yang tak memperbolehkan adanya pelaksanaan ODL.

Akibatnya pembayaran yang sebelumnya sudah dilakukan sebesar Rp1,5 juta itu terpaksa harus dikembalikan. Namun pengembalian itu justru dipotong sebesar Rp148.000 per siswa dengan alasan untuk uang muka sewa bus, dan booking hotel yang nilainya sekitar Rp25 juta.

Luqman mengatakan, uang muka yang hilang saat pembatalan seperti itu sebuah hal biasa. Dan pihak penyedia jasa travel yang diketahui dari Pranata Wisata sendiri menjelaskan yang dipotong seharusnya lebih besar lagi nominalnya dibanding dengan yang sudah terjadi saat ini.

“Kalau masalah transparansi, sekolah itu hanya sebagai perantara antara wali murid dan travel. Jadi sekolah tidak mempunyai hak untuk memberikan data detailnya terkait potongan, itu harus ditanyakan langsung ke pihak travelnya,” tegas Luqman saat dikonfirmasi di sekolah, Rabu (18/6/2025).

Luqman menambahkan dari hasil rapat musyawarah yang pernah dilakukan sebelumnya, hampir semua wali murid menerima adanya pemotongan dana itu. Meski begitu ia juga tak menyalahkan wali murid untuk menanyakan hal tersebut.

“Itu hak dia, tapi sebagian besar wali murid menerima terutama mereka yang pernah menjadi panitia kegiatan atau pernah mengalami pembatalan, pasti mereka paham,” ujarnya.

Pria berambut tipis ini menjelaskan, kegiatan yang biasanya rutin dilakukan tiap tahunnya ini juga tak memaksa wali murid untuk mendaftarkan anaknya. Para siswa-siswi dibebaskan untuk ikut maupun tak ikut dalam kegiatan yang rencananya akan dilakukan di Bali tersebut.

Adapun keefektifan pembelajaran diluar kelas seperti itu, menurut Luqman, dapat mendapatkan wawasan baru bagi siswa-siswi. Dengan adanya kegiatan itu membuat para anak dapat berpikir bahwa dunia itu luas.

“Yang kedua adalah adanya sebuah kebersamaan dari anak-anak yang membuat keterikatan tinggi, walaupun mereka sudah lulus,” jelas Luqman.

Ia berpendapat kegiatan ODL merupakan kegiatan yang perlu dilakukan. Karena sekolah di jenjang SMP hanya berlangsung singkat yakni hanya tiga tahun saja. Serta, adanya ODL juga mendorong peserta didik untuk keluar dari rumah dan juga mendapatkan wawasan baru diluar sana.

“Menurut saya itu perlu, karena suatu saat mereka juga akan kuliah diluar. Kalau kita tidak memulainya dari awal bagaimana kita bisa mempercainya bisa mandiri,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak sekolah tak kunjung memberikan pernyataan resmi mengenai permasalahan tersebut. Mereka berdalih, apa yang disampaikan Ketua Komite sudah menjawab apa yang menjadi akar permasalahannya. (Hus/Tgb).