TUBAN – Di ujung sore Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, denting rantai pintu pabrik baru saja berhenti berdentang. Ratusan buruh keluar dengan wajah lelah. Di antara mereka, Eko Priyono (32) tak langsung pulang untuk rebahan atau bersantai di depan televisi. Langkahnya justru dipercepat menuju belakang rumah, di mana suara kokok dan riuh ayam telah menantinya.

Pekarangan sempit di belakang rumah itu berubah menjadi surga kecil. Puluhan kandang berjajar rapi, masing-masing berisi ayam-ayam dengan bulu mengilap dan postur gagah. Ada Sengkuni berwarna hitam pekat dengan semburat hijau, Golden Permut yang anggun, hingga Kampung Petelur Unggul (KPU) yang terkenal rajin bertelur.

“Awalnya cuma iseng. Capek kerja, ya nyari hiburan di kandang. Eh lama-lama malah ketagihan,” ujarnya sambil menabur pakan, Sabtu (9/8/2025).

Tahun 2020 menjadi titik balik. Pandemi membuat banyak orang menahan diri untuk bepergian, termasuk Eko. Waktu luang yang melimpah ia isi dengan bereksperimen mengawinkan berbagai jenis ayam kampung. Hasilnya adalah anakan ayam silangan yang lebih kuat, lebih produktif, dan diminati pasar.

Kini, setiap minggu ia bisa menjual puluhan ekor anak ayam dengan harga mulai dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu per ekor. Omzetnya stabil di angka Rp1,5 juta–Rp2 juta per pekan, jumlah yang nyaris menyamai gajinya sebagai buruh pabrik.

Tidak berhenti di sana, Eko juga merakit mesin penetas telur berkapasitas 150 butir. Dijual seharga Rp2,2 juta, mesin sederhana ini sudah menembus pasar hingga NTB, NTT, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Peminatnya banyak, apalagi yang baru mau mulai usaha. Saya bikin sesuai pesanan, jadi tetap bisa menyesuaikan waktu kerja di pabrik,” jelasnya.

Rahasia keberhasilan Eko ada pada perawatan. Ayam-ayamnya diberi pakan pabrikan dengan komposisi nutrisi tepat, dilengkapi vitamin reproduksi, serta jamu tradisional dua kali seminggu. Ia percaya, hewan yang dipelihara dengan hati akan membalas dengan hasil terbaik.

Setiap hari, produktivitas telurnya bisa mencapai 80%, angka yang cukup tinggi untuk skala rumahan.

Keberhasilan Eko membuatnya dilirik komunitas peternak. Rumahnya kerap menjadi tempat belajar bagi pemula yang ingin memulai bisnis ayam. Baginya, berbagi ilmu sama berharganya dengan menjual bibit ayam.

“Kalau banyak orang bisa mulai usaha dari rumah, itu rezeki bersama. Saya senang lihat orang lain ikut maju,” katanya dengan senyum tulus.

Ke depan, Eko ingin memperluas kapasitas kandang, menambah jenis ayam unggul, dan mengembangkan sistem pre-order mesin penetas. Mimpinya sederhana, tetap bekerja di pabrik sambil mengembangkan usaha yang lahir dari halaman belakang rumah.

Kisah Eko adalah pengingat bahwa peluang bisa tumbuh di mana saja, bahkan di pekarangan rumah asal ada kemauan, ketekunan, dan sedikit keberanian untuk mencoba. (Hus/Tgb).