TUBAN – Puluhan petani dari berbagai desa di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban yang tergabung dalam gabungan Himpunan Petani Pengguna Air (HIPPA) mendatangi DPRD setempat. Mereka sudah lelah dengan kondisi Kali Avur yang makin dangkal, sehingga mengakibatkan banjir yang menggenangi lahan pertanian.
Kali Avur sebenarnya merupakan sungai pembuangan air jika musim penghujan, melintas di Kecamatan Plumpang dan Kecamatan Widang yang tersambung di wilayah Kecamatan Rengel. Pendangkalan akibat sedimentasi di sungai ini, puluhan tahun tak dilakukan revitalisasi.
Menurut hitungan para petani, di wilayah Kecamatan Plumpang terdapat setidaknya 609 hektar lahan yang tergenang banjir karena luapan sungai itu. Sedangkan untuk Kecamatan Widang yang merupakan hilir dari kali tersebut sawah yang tergenang mencapai kurang lebih 1.700 hektar.
Gabungan HIPPA Kecamatan Plumpang itu terdiri dari sembilan desa yaitu Desa Klotok, Bandungrejo, Plandirejo, Sambungrejo, Kedungrejo, Kedungsoko, Kebomlati, Jatimulyo, Cangkring, dan Desa Plumpang. Mereka datang menemui wakil rakyat agar masalah yang menimpanya terselesaikan.
Luapan air dari saluran irigasi yang mengalami pendangkalan itu menyebabkan lahan pertanian milik warga tergenang. Hal itu menyebabkan gagal panen, dan molornya musim tanam di dua wilayah kecamatan tersebut. Banjir tahun ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Koordinator petani Nur Ahsan mengatakan, mereka menuntut revitalisasi Kali Avur yang harus disesuaikan dengan fungsinya. Selain itu menuntut agar memperlebar pintu air (DAM) inlet swis dua di Desa Banjar, Kecamatan Widang.
“Kekhawatiran kami dikasih harapan palsu, tapi nanti kita akan terus kawal. Jika tidak ada keseriusan kami akan bawa peserta aksi yang lebih banyak,” tambah Ahsan saat dikonfirmasi setelah audiensi di ruang rapat Paripurna, Sabtu (14/6/2025).
Ahsan menambahkan, saluran air itu sejak tahun 1993 belum pernah dilakukan revitalisasi. “Kami terancam tak bisa melakukan aktivitas pertanian karena kondisi lahan saat ini masih tergenang,” katanya.
Ketua Komisi III DRPD Tuban, Tulus Setyo Utomo, mengatakan, siap mendukung dan mengawal tuntutan para petani itu. Adanya banjir di dua kecamatan itu disinyalir karena adanya sedimentasi di Kali Avur. Selain itu, belum maksimalnya fungsi waduk Jabung Ring Dyke juga menjadi salah satu penyebabnya.
“BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Bengawan Solo harus berani mengambil langkah tegas dan cepat,” tegas Tulus.
Politisi dari PDIP Tuban itu menegaskan, meskipun elevasi tanah di Kecamatan Widang lebih tinggi. Permasalahan banjir tersebut bisa selesai kalau waduk Jabung dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Sementara itu Pelaksana Teknis BBWS Bengawan Solo, Feri, menyatakan, akan berkoordinasi dengan pimpinannya untuk pembukaan DAM. Namun, untuk waduk yang digadang-gadang bisa menampung hingga 30 juta liter air itu masih terkendala proses santunan lahan di Desa Mlangi.
“Dari 550 bidang sekarang tinggal 57 bidang yang belum diberikan santunan karena adanya efisiensi, tapi itu sudah direncanakan santunannya pada tahun 2026 sekalian dengan pembangunannya,” pungkas Feri. (AN/Tgb).
