TUBAN – Ketegangan di Terminal Khusus (Tersus) PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mereda setelah pihak manajemen dan vendor menemui warga yang melakukan aksi blokade. Pertemuan tersebut berhasil memecah kebuntuan dan menghasilkan kepastian atas tuntutan masyarakat setempat.
Sebelumnya, akses Terminal Khusus (Tersus) PT SIG Tuban sempat diblokir oleh warga Desa Socorejo, Kecamatan Jenu, pada Kamis (30/7/2026) pagi. Aksi protes ini dipicu oleh adanya kesepakatan antara dua vendor dari perusahaan BUMN tersebut dengan para warga yang tak terealisasi.
Para warga yang diwakili Wahyudi menegaskan bahwa aksi demonstrasi tersebut merupakan gerakan spontan demi menagih realisasi kesepakatan hasil audiensi pada 6 Juli lalu. Pasalnya, hingga 30 Juli, baru satu dari tiga tuntutan yang disepakati yang telah dipenuhi.
Menurutnya, dua vendor perusahaan yakni PT Brion Bara Indonesia dan PT Mahkota Artha Sejati hanya memenuhi tuntutan berupa pembagian sembako untuk RT 01 sampai RT 05. Sedangkan tuntutan perbaikan jalan dan balai nelayan belum dilakukan oleh keduanya.
Oleh karenanya, para warga datang menduduki pintu masuk tersus dari pukul 10.00 wib hingga menjelang sore tiba. Mereka berjam-jam menunggu respon dari perusahaan sekaligus mengancam mendirikan tenda apabila tak diberikan tanggapan resmi dari vendor maupun SIG.
Penantian warga pun kemudian ditanggapi oleh perwakilan dari PT SIG beserta Direktur PT Brion Bara Indonesia, Amin. Mereka datang untuk berdialog dengan warga terkait dengan tuntutan mereka.
Negosiasi berlangsung alot saat warga menolak permintaan perpanjangan waktu lima hari untuk perbaikan jalan dan balai nelayan. Khawatir hanya diberi janji manis, warga mendesak agar pengerjaan segera dimulai pada Jumat (31/7/2026) besok.
Oleh karenanya PT Vendor mau tak mau harus menuruti permintaan para warga. Yang menjadi persoalan ini semakin pelik, Direktur PT Brion Bara, Amin justru tak tahu menahu terkait persoalan tersebut. Ia berdalih bahwa sudah satu setengah tahun tak ikut mengawasi perusahaannya.
“Saya sudah setahun setengah fokus bertani, semua saya serahkan ke anak buah saya. Jadi saya kurang monitor, Mas,” katanya.
Sementara itu, perwakilan PT SIG yang menemui pendemo, M. Erfan, enggan memberikan keterangan lebih lanjut. Ia mengaku tak memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan awak media dan mengarahkan agar konfirmasi ditujukan langsung ke bagian Corporate Communication.
Namun, hingga berita ini ditayangkan, pihak Pelabuhan Khusus PT Semen Indonesia maupun Senior Manager Corporate Communication PT SIG Pabrik Tuban, Dharma Sunyata, belum memberikan respons resmi terkait upaya konfirmasi yang dilayangkan awak media.
Setelah adanya kesepakatan antara warga, pihak vendor serta manajemen SIG, mereka kemudian berangsur meninggalkan lokasi. Akses masuk pelabuhan juga dibuka kembali sehingga operasi perusahaan plat merah itu tak terganggu kembali.
Pembukaan kembali akses Tersus PT SIG menjadi sinyal positif bahwa dialog terbuka selalu punya cara menembus kebuntuan. Kini, bola panas ada di tangan pihak vendor. Janji perbaikan yang dimulai esok hari bukan sekadar pemenuhan tuntutan, melainkan fondasi penting untuk merawat kembali kepercayaan dan harmoni antara raksasa industri dengan masyarakat sekitar. (Hus/Tgb).
