TUBAN Kian terhimpit kepulan debu operasional PT Semen Indonesia (SIG) Pabrik Tuban, warga Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, kini terpaksa semakin gigit jari. Lambannya penanganan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP), diperparah dengan sikap acuh dari perusahaan plat merah tersebut.

Bukti tak adanya iktikad baik PT SIG terlihat jelas dalam audiensi yang difasilitasi DPRD Tuban. Perusahaan memilih absen mendengarkan jeritan warga Desa Sumberarum dengan dalih belum mengantongi surat disposisi dari pimpinan.

Pada audiensi itu, warga Desa Sumberarum tidak datang ke gedung dewan dengan tangan kosong. Mereka membawa bukti nyata, sedikitnya 17 warga kini berjuang melawan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat gumpalan debu yang saban hari dihirup.

Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Desa Sumberarum, Joyo Muasan, mengecam keras Mangkirnya perusahaan. Sikap tuli ini memperjelas bahwa perusahaan sama sekali tak peduli pada penderitaan warga yang saban hari menghirup debu.

“Hari ini juga sudah ada undangan untuk PT SIG, tapi tidak hadir, lha ini sangat-sangat mengecewakan,” jelasnya usai audiensi berlangsung pada Rabu (29/7/2026).

Kekecewaan warga semakin diperparah dengan sikap DLHP Tuban yang tampak menyepelekan. Meski isu ini bertahun-tahun terus menyerebak, penanganan atas permasalahan tak kunjung ada.

“Dulu di tahun 2018 sempat ada komplain juga, tapi semua pihak seakan tak respondsif lagi. Jawabannya hanya ‘oke pak’ ‘oke pak’ saja,” keluh Joyo.

Pria yang juga menjabat sebagai ketua BUMDes ini meminta dari pihak-pihak terkait untuk serius menangani permasalahan ini. Menurutnya, warga lokal tak boleh terus-menerus diganjar penderitaan oleh industri yang semestinya memakmurkan mereka.

Sedangkan, Ketua Komisi I DPRD Tuban, Suratmin mengonfirmasi bahwa seluruh pihak berkepentingan sebenarnya telah dipanggil secara resmi. Namun, raksasa semen itu justru mangkir dengan dalih klasik formalitas birokrasi internal.

​”Semua pihak terkait sudah kami undang, tetapi pihak semen absen dengan alasan disposisi direksi belum turun,” cetus politikus Golkar tersebut.

​Buntut dari mangkirnya PT SIG, Komisi I terpaksa menjadwalkan ulang agenda audiensi. Suratmin pun berjanji akan menekan DLHP agar menanggalkan sikap mandulnya dan memaksimalkan fungsi pengawasan, tanpa harus menunggu jatuhnya korban yang lebih berjatuhan di masyarakat.

Sementara itu, Senior Manager of Corporate Communication PT SIG Pabrik Tuban, Dharma Sunyata nampak acuh soal permasalahan itu. Pihaknya sama sekali tak memberikan pernyataan apapun soal masalah tersebut.

Sikap bungkam manajemen PT SIG ini menambah panjang catatan kelam penanganan dampak lingkungan di area operasional pabrik.

Di tengah ancaman ISPA yang mengintai warga Desa Sumberarum, sikap tertutup BUMN tersebut memicu pertanyaan besar terkait komitmen Corporate Social Responsibility (CSR) dan tanggung jawab sosial lingkungan yang diamanatkan undang-undang. (Hus/Tgb).