TUBAN – Upaya menekan penyebaran HIV di Kabupaten Tuban masih menjadi tantangan bersama yang membutuhkan perhatian penuh. Memasuki pertengahan tahun ini, pemicu penularan virus yang berdampak pada daya tahan tubuh tersebut tercatat mengalami perubahan pola yang cukup signifikan.
Jika pada tahun 2025 lalu penularan didominasi oleh kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL), catatan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban menunjukkan pola baru sepanjang tahun 2026. Kini, penularan banyak dipicu oleh aktivitas pelanggan seks, kelompok LSL, hingga maraknya praktik Open BO.
Berdasarkan data dari Dinkes P2KB Tuban, secara akumulatif sejak tahun 2008 hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 774 penderita HIV di Bumi Wali, dengan 185 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Tren temuan kasus baru menunjukkan fluktuasi, di mana sepanjang tahun 2025 lalu tercatat sebanyak 271 penderita baru, termasuk 4 anak yang tertular dari sang ibu, sedangkan pada periode Januari hingga Juli 2026 ini ditemukan 135 penderita baru, salah satunya merupakan remaja berusia 17 tahun akibat pergaulan bebas.
Plt Kepala Dinkes P2KB Tuban, Roikhan melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Syahrul Afifa Ratna Sari mengungkapkan, sepanjang periode Januari hingga Juli 2026, terdeteksi sebanyak 135 temuan kasus baru HIV di Bumi Wali.
“Secara akumulatif sejak 2008 hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 774 penderita HIV di Tuban, di mana 185 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia,” beber Ratna kepada awak media.
Sebagai pembanding, pada tahun 2025 lalu angka kasus baru mencapai 271 orang. Kala itu, terdapat empat anak rentang usia di bawah 4 hingga 14 tahun yang terpapar akibat tertular dari sang ibu. Sementara pada tahun 2026 ini, tercatat satu remaja berusia 17 tahun teridentifikasi positif akibat pergaulan bebas.
Ratna menekankan bahwa masa inkubasi HIV memakan waktu cukup panjang, yakni berkisar antara 1 hingga 3 tahun. Oleh sebab itu, skrining atau deteksi dini menjadi benteng utama agar penderita bisa langsung mengakses terapi Antiretroviral (ARV).
Langkah medis cepat ini krusial untuk mencegah kondisi penderita merosot ke fase Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)—fase di mana tubuh mulai diserang berbagai komplikasi penyakit akibat sistem imun yang melumpuh.
“Pengobatan sejak dini sangat penting agar penyakit infeksi lain tidak dengan mudah menyerang tubuh pasien,” jelasnya.
Guna menekan laju sebaran, Dinkes P2KB Tuban aktif menggelar deteksi dini menyasar populasi kunci dan kelompok berisiko tinggi. Pasien yang teridentifikasi dipastikan langsung mendapatkan penanganan medis ARV secara berkala.
Tidak hanya penanganan secara fisik, dukungan psikososial bagi penyintas juga terus berjalan melalui Pendampingan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) guna menguatkan mental penderita.
Di akhir paparannya, Ratna mengimbau masyarakat Tuban untuk menghapus stigma negatif dan perlakuan diskriminatif terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Edukasi publik dinilai perlu terus digencarkan agar masyarakat memahami cara penularan yang benar.
“Masyarakat tidak boleh mengucilkan penderita. Yang harus kita hindari dan jauhi adalah perilaku risikonya serta penyakitnya, bukan orangnya,” tutup Ratna. (Hus/Tgb).
