TUBAN – Warga Dusun Penebusan, Desa Kepohagung, Kecamatan Plumpang, Tuban, harus mengurut dada. Akses jalan desa yang saban hari mereka lintasi kini kondisinya merana akibat terus-menerus dihantam armada truk tambang berbobot berat.
Tak sekadar rusak, aktivitas lalu lalang kendaraan berat bermuatan batuan kapur menyisakan nestapa berkepanjangan bagi warga sekitar. Saat kemarau, warga harus makan debu pekat, sementara ketika musim penghujan tiba, kubangan lumpur siap menyambut.
Ramainya persoalan debu ini pertama kali di unggah disalah satu akun media sosial. Dalam video itu, lalu lalang dam truk bermuatan batu kapur nampak membuat masyarakat disekitar sana merana. Selain debu dan jalan rusak, tak adanya penutup bak juga membuat para warga sering kelilipan saat berkendara di belakang truk.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, tingginya intensitas lalu lalang kendaraan berat diduga kuat menjadi pemicu utama hancurnya akses jalan tersebut. Jalan yang mulanya beraspal mulus kini tergerus dan rusak parah akibat saban hari dihantam armada truk dari sekitar delapan perusahaan berbeda yang beroperasi di kawasan tersebut.
Pihak desa sebenarnya telah memediasi masalah tersebut bersama sejumlah perusahaan, termasuk PT Timbul Jaya Persada. Namun, mediasi gagal mencapai kesepakatan karena para pengusaha menolak menanggung seluruh biaya pengaspalan ulang jalan dan hanya bersedia menanggung setengahnya bersama desa.
Salah seorang warga setempat membeberkan, kepulan debu tambang hampir tak pernah absen mengotori halaman hingga masuk ke dalam area rumahnya setiap kali truk melintas.
“Setiap ada truk lewat, debunya terbang sampai masuk rumah. Musim kemarau begini makin parah,” keluhnya.
Ia menambahkan, kondisi ini berbanding terbalik dengan masa lalu. Jalan yang mulanya beraspal mulus kini hancur lebur hingga menyisa fondasi makadam akibat tak kuat menahan beban armada tambang yang melintas saban hari.
“Dulu ini jalan aspal. Tapi semenjak sering dilewati truk-truk tambang, aspalnya hancur dan berubah jadi jalan makadam,” cetusnya.
Sementara itu, salah satu petinggi perusahaan PT Timbul Jaya Persada, Muzamil belum memberikan keterangan apapun mengenai hal tersebut.
Disisi lain, alih-alih mengakui kesalahan, Kepala Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perusahaan terkait, Dika justru membela diri. Ia merasa tidak seharusnya menanggung beban itu sendirian dan mendesak perusahaan-perusahaan lain penggunan jalan tersebut untuk turut bertanggung jawab.
“Dipelajari dulu lagi itu truk-truk yang melintas milik siapa, karena disitu bukan hanya kami yang melintasi jalur tersebut. Ada sekitar delapan perusahaan yang juga melintas disana,” ungkap Dika seperti yang dikutip dari salah satu media online.
Meski begitu, pihak manajemen PT Timbul mengklaim tetap berkomitmen menekan dampak lingkungan dengan rutin menyiram jalan saban hari guna meminimalisir sebaran debu. Terkait perbaikan jalan, pihak perusahaan berdalih persoalan tersebut menjadi tanggung jawab bersama karena melintasi rute yang diakses banyak korporasi.
“Biasanya kalau ada keluhan seperti ini, warga langsung ke Timbul, Mas,” pungkas Dika menyayangkan sikap warga yang dinilainya kerap menjadikan perusahaannya sebagai sasaran empuk pelampiasan kekesalan. (Hus/Tgb).
