TUBAN Janji manis PT Waskita Karya dalam penanganan dampak proyek Sekolah Rakyat (SR) di Kelurahan Mondokan, Kabupaten Tuban, kini ditagih warga. Meski sempat mengobral kesepakatan, pelaksana proyek milik BUMN itu dinilai acuh dan membiarkan permukiman warga terancam banjir hingga dipenuhi polusi debu.

Dari data yang dihimpun oleh tim Ronggo.id menyebut proyek pembangunan gedung SR Bumi Wali seluas tujuh hektar ini dibiayai APBN senilai ratusan miliar rupiah. Namun, proyek yang diproyeksikan untuk memutus rantai kemiskinan tersebut sejauh ini terus menuai keluhan, mulai dari isu dinding rumah warga retak, kekhawatiran banjir, hingga sosialisasi yang dinilai sekadar formalitas.

Dulu saat masih dalam proses pengurukan lahan, para warga sempat mengadu ke DPRD setempat soal permasalahan yang dihadapinya. Mereka meminta kepada pihak waskita untuk bertanggungjawab atas keluhan-keluhan warga yang disampaikan saat audiensi dengan wakil rakyat dulu.

Kini, warga RT 04 RW 06, Kelurahan Mondokan kembali menyoroti sedikitnya empat poin krusial yang langsung menyenggol kenyamanan dan keselamatan warga. Paling mendesak adalah rusaknya saluran air (drainase) di sebelah barat permukiman yang hingga menjelang musim hujan belum tersentuh perbaikan.

Saluran air selebar kurang lebih 80 centimeter yang berada tepat di antara pagar SR dan permukiman warga tersebut kini kondisinya rusak parah. Warga was-was jika hujan deras turun, fungsi drainase terganggu dan memicu luapan air hingga menggenangi pemukiman.

Padahal, dalam forum peninjauan bersama sebelumnya, PT Waskita Karya telah menyepakati opsi pengembalian fungsi saluran menggunakan pasangan batu kali yang dilengkapi rabat beton dan plesteran di sisi kanan-kirinya.

“Sepakatnya dikembalikan seperti semula pakai batu kali dan dirapikan rabat beton. Tapi faktanya sampai sekarang belum ada pengerjaan sama sekali di lapangan,” keluh salah satu warga setempat, Ahmad.

Tak hanya urusan saluran air, kekecewaan warga kian memuncak saat gapura pintu masuk permukiman dibongkar begitu saja tanpa adanya koordinasi maupun izin kepada pengurus RT dan RW setempat.

Usut punya usut, gapura tersebut memiliki nilai historis tersendiri bagi warga. Bangunan itu berdiri dari hasil dana swadaya masyarakat usai menyabet juara dalam perlombaan Kampung Idaman Bersih (KIB) tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Harusnya ada kulo nuwun atau komunikasi resmi dengan RT/RW. Paling tidak dibahas bagaimana rencana pembangunan kembalinya,” tegasnya.

Dampak lainnya terlihat di sepanjang akses jalan menuju Balai Kelurahan Mondokan. Pembongkaran pagar semi permanen menyisakan untaian kabel yang semrawut dan tidak tertata. Kondisi ini dinilai membahayakan keselamatan warga serta anak-anak yang kerap melintas.

Selain itu, belasan pohon mangga hasil iuran warga yang tadinya rindang dan produktif kini mengalami kerusakan parah hingga mati tak lagi berbuah akibat imbas pengerjaan di sekitar lokasi.

Persoalan polusi debu juga tak kalah menyiksa. Debu tebal hasil kendaraan operasional proyek merangsek masuk ke dalam rumah warga hingga memicu gangguan pernapasan dan iritasi kulit.

Seorang warga yang rumahnya berhimpitan langsung dengan tembok SR menuturkan rasa frustrasinya atas sikap pengembang proyek yang dinilai abai terhadap penanganan debu berkala. “Kami ini yang kena dampaknya langsung setiap hari, rumah kotor, anak-anak juga mulai batuk dan gatal-gatal,” jelasnya.

“Dulu penyiraman jalan cuma giat dilakukan pas ada kunjungan Gubernur Jawa Timur saja. Setelah itu ya ditinggal begitu saja, debunya ngebul lagi. Janji-janji saat pertemuan seperti formalitas semata,” tambah warga tersebut dengan nada kecewa.

Warga sebenarnya mendukung penuh proyek Sekolah Rakyat sebagai pembangunan nasional. Namun, di tengah berbagai kendala yang ada, mereka meminta PT Waskita Karya menepati janjinya sesuai kesepakatan agar lingkungan sekitar tetap aman, nyaman, dan sehat.

Sementara itu, Koordinator Wilayah PT Waskita Karya Tuban, Agus Saputra menyatakan komitmennya untuk segera membenahi fungsi saluran air yang ada di lokasi tersebut. “Kami akan tetap berkomitmen untuk memenuhi harapan masyarakat sekitar,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa saluran air itu sebenarnya pernah diperbaiki. Namun, karena hasilnya belum memenuhi harapan warga, disepakati bahwa fungsinya akan dikembalikan ke kondisi awal dan pengerjaannya akan dimulai dalam waktu dekat.

Selain pembenahan drainase, warga Mondokan yang terdampak proyek pembangunan SR juga menagih sejumlah perbaikan lain. Tuntutan tersebut mencakup pembangunan kembali gapura yang rusak serta penataan kabel di sekitar area agar terlihat lebih rapi.

“Terkait ijin pembongkaran gapura, kita sudah mendapatkan izin dari dinas sosial sebagai user Sekolah Rakyat ya, Mas,” pungkasnya. (Hus/Tgb).