TUBAN – Bukan sekadar datang, bernyanyi, menari, dan riang tawa. Nilai kemanusiaan terasa berkelindan dalam silaturahmi komunitas Sweet Memories Tuban, pada pekan ketiga bulan April 2025.

“Kami berkumpul setiap tahun bukan sekadar bersenang-senang,” sebut Penasihat Sweet Memories Tuban, H Sudjarwoto Tjondronegoro, di sela perhelatan yang diikuti tak lebih dari 300 tokoh dari beragai praktisi itu.

Selain bernyanyi dan bergembira sebagai bagian rekreasi setelah setahun tak bersinggungan, para praktisi berlatarbelakang guru besar, dosen, rektor, praktisi hukum, pejabat, aktivis, pengusaha, hingga komunitas senam dan pedagang itu, menjadikan perhelatan di kediaman Sudjarwoto Tjondronegoro di kawasan Bukit Karang, Tuban tersebut sebagai ajang mempererat silaturahmi. Satu keinginan para aktivis gaek itu diberikan panjang umur, agar bisa menjaga nadi sosial saat menggendong misi kemanusiaan.

Sekalipun selalu menolak dipublikasi, namun pada dimensi sosial kemanusiaan, telah banyak yang dilakukan komunitas ini. Mulai santunan anak yatim-piatu, bantuan untuk warga tak mampu, bakti sosial, hingga menjaga lingkungan hidup.

“Setiap tahun kami bertemu, dan saling menjaga diri agar bisa berbuat untuk kemanusiaan,” ujar Mas Totok, sapaan akrab Ketua PPLP-PT PGRI Tuban itu.

Komunitas sarat aktifis berusia sepuh itu, terbentuk beberapa tahun lalu. Mereka mengusung jargon “Gayeng, Guyub, Langgeng, Paseduluran.” Tujuannya mempererat silaturahmi, dan membangun semangat solidaritas di kalangan anggotanya. Mereka sepakat mengisi sisa masa hidup dengan kegiatan mulia.

“Semuanya demi bumi, dan mengedepankan aksi kemanusiaan,” urai penyuka warna hitam itu panjang lebar sembari tersenyum.

“Alhamdulillah, alumni sekolah seangkatan kami, kakak maupun adik tingkat, baik dari masa SD hingga perguruan tinggi banyak yang berhasil,” kata pensiunan Dosen di Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban itu. “Kami sevisi mengisi hari tua dengan aksi kemanusiaan.”

Koes Plus dan Tembang Kenangan

Perhelatan pun tampak bernas. Diiringi organ tunggal, mereka bergantian melantunkan tembang-tembang kenangan. Sesekali ada orasi untuk menjaga marwah aktivis yang menolak purna.

Warna lagu dalam gelaran Sweet Memories Tuban 2025 juga beragam genre. Mulai dangdut koplo, campursari, hingga musik cadas di era 1970-1980-an semasa mereka berusia muda. Walau demikian lagu kenangan, dan tentunya racikan tembang Koes Plus tetap mendominasi perhelatan di siang temaram.

Solidaritas dan Berbagi

“Paguyuban Sweet Memories ini menjadi wadah untuk melepas rindu, mempererat solidaritas, sekaligus membangun semangat berbagi,” tutur Joekrom Sukarno.

Joekrom dan peserta lain berbahagia. Pun bangga dapat berkumpul bersama para senior.

“Kami tak lagi ada sekat, semangatnya sama untuk membangun misi kemanusiaan,” ujarnya.

Lebih itu hadirnya Sweet Memories Tuban, harap Mas Totok, bisa menginspirasi warga maupun komunitas lain. Ia sadari di luar komunitasnya, ada kelompok sewarna yang mendedikasikan aktivitasnya untuk kemanusiaan dan lingkungan.

“Ada nilai-nilai yang mesti kita berikan, karena jangan pernah lupa bahwa kita bagian dari masyarakat,” pungkas Sudjarwoto Tjondronegoro. (Jun/Tgb).