TUBAN — Belum tuntas persoalan kelangkaan elpiji 3 kilogram, warga Kabupaten Tuban kembali dihantam gelombang keresahan baru. Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menutup layanan penjualan setelah pasokan BBM dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tuban tersendat akibat aksi mogok kerja Awak Mobil Tangki (AMT), Jumat (10/4/2026).
Mogok kerja ini diduga dipicu pemecatan dua pekerja PT Cahaya Andhika Tamara (CAT) subkontraktor PT Pertamina Patra Niaga yang dianggap tidak melalui mekanisme yang jelas dan transparan. Selain itu, para pekerja menuding adanya intimidasi dari petugas keamanan perusahaan, memperkeruh hubungan industrial yang telah lama memanas.
Dampak aksi mogok AMT langsung terasa di hampir seluruh wilayah Tuban. SPBU di Kecamatan Semanding, Palang, Merakurak, hingga Rengel memilih menghentikan layanan setelah tidak menerima suplai BBM dari depo Pertamina.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan sempat mengular sebelum petugas SPBU memasang papan “BBM Habis”, bahkan tidak ada aktivitas petugas operator di area dispenser. Beberapa pengemudi roda dua tampak kebingungan mencari tempat pengisian alternatif.
Indah Rustami, warga Kecamatan Semanding, mengaku terpaksa membeli bensin eceran lantaran SPBU di Desa Bektiharjo terdapat tulisan BBM habis dan tidak melayani penjualan.
“Biasanya saya isi di sini sambil pulang kerja, tapi ternyata habis. Ya terpaksa beli eceran,” ujarnya.
Hardiono, driver ojek online asal Merakurak, mengaku berkeliling ke tiga SPBU namun semuanya kehabisan BBM.
“Pom di Manunggal, Semanding, dan Merakurak sama-sama kosong, terutama Pertamax,” katanya.
Seorang pengawas SPBU di Tuban membenarkan bahwa pengiriman biasanya dilakukan pada siang atau sore hari. Namun hingga malam, tidak ada satu pun mobil tangki yang keluar dari TBBM.
“Biasanya siang atau sore sudah ada mobil masuk. Tapi sepertinya demonya belum selesai, jadi BBM belum dikirim,” katanya.
Ia mengaku stok bensin di SPBU yang dikelolanya masih cukup untuk melayani sementara waktu, itupun hanya jenis pertalite. Namun kondisi itu tidak akan bertahan lama.
“Semuanya habis, tinggal pertalite. Kalau hari ini tidak dikirim, besok kami tidak bisa melayani pembelian. Pertamax sudah habis,” ujarnya.
Hingga sore hari, aksi mogok AMT belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Tidak ada satu pun truk tanki yang keluar dari terminal. Para pekerja masih menunggu sikap resmi perusahaan atas tuntutan yang mereka ajukan. Bahkan pekerja mengancam akan mendirikan tenda di depan perusahaan tersebut.
Sementara itu, semua pihak yang berkepentingan memilih bungkam. Ketua Paguyuban AMT Lumintu, Area Manager PT Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Ahad Rehadi, hingga Kapolsek Jenu AKP Darwanto kompak menolak memberikan keterangan terkait kronologi, tuntutan pekerja, ataupun langkah penyelesaian yang disiapkan.
Sikap tertutup ini membuat persoalan semakin kabur, sementara masyarakat berada di posisi paling rentan: kehabisan gas untuk memasak, dan kini terancam kehabisan BBM untuk beraktivitas.
Dalam sepekan terakhir, Tuban telah lebih dulu dilanda kelangkaan elpiji 3 kilogram. Kini, dengan terhentinya distribusi BBM akibat mogok AMT, warga menghadapi dua gangguan energi sekaligus. Jika persoalan hubungan industrial tidak segera diselesaikan, kelumpuhan layanan SPBU dikhawatirkan meluas hingga ke wilayah perbatasan dan memicu lonjakan harga bensin eceran.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada mediasi formal yang dilakukan antara AMT dan pihak perusahaan. (Jun/Tgb).
