TUBAN – Belum usai masalah debu dari aktivitas klinker milik PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), kini giliran masyarakat Desa Sawir dan Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo yang giliran harus menghisap udara yang bercampur dengan debu pembakaran semen dari perusahaan tersebut.
Keluhan tersebut disampaikan oleh salah satu warga sekitar yang enggan disebutkan namanya. Saat dia hendak beraktivitas di malam hari, ia melihat kepulan seperti asap membumbung tinggi dari perusahaan plat merah tersebut.
“Debu itu kemungkinan dari cerobong pembakaran semen, Mas, dan seperti ini sudah sering terjadi saat malam hari,” cetusnya kepada tim Ronggo.id.
Ia mengatakan pekatnya asap tersebut biasanya hanya terjadi saat musim kemarau datang. Asap tebal tersebut biasa mengarah menuju ke selatan pabrik atau arah Desa Mliwang, Kecamatan Kerek.
“Dulu di area selatan pabrik sempat diberikan kompensasi berupa cek kesehatan gratis, itupun sekitar dua tahunan lalu. Sekarang sudah tidak ada lagi,” keluhnya.
Pria yang juga memiliki sepetak lahan yang terkena dampak debu klinker tersebut juga menjelaskan, desanya sendiri hingga kini belum mendapatkan kompensasi apapun dari aktivitas anak perusahaan dari PT Semen Indonesia (SIG) itu.
“Di sekitar Desa Glondonggede juga tercium aroma batubara, Mas, saat proses bongkar muat berlangsung,” tutupnya.
Kondisi ini semakin memperpanjang polemik aktivitas perusahaan yang dulunya bernama Holcim itu. Selain dugaan pencemaran udara dari proses pembakaran semen, persoalan lama terkait debu klinker juga belum menunjukkan penyelesaian yang jelas.
Sementara itu, Corporate Communication Reg 3 PT SBI Tuban, Ario Patra Nugraha mengatakan pihak perusahaan hingga saat belum menerima laporan langsung dari warga. Meski begitu pihak korporasi secara paralel akan mengecek keluhan warga tersebut.
“Uap air yang muncul dari cerobong merupakan bagian dari proses operasi dikarenakan terdapat penguapan air pada sistem,” ungkap Ario Patra saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.
Ia menambahkan dalam operasional sehari-hari, PT SBI menerapkan CEMS (Continuous Emission Monitoring System) serta langkah rutin untuk mengurangi timbulan debu seperti pengerasan jalan dan penyiraman.
Selain itu pihaknya juga melakukan pengontrolan emisi debu dengan teknologi bag filter sehingga emisi debu ke lingkungan dapat diminimalisir. “Kami selalu terbuka untuk menerima input dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar, Mas,” pungkasnya.
Sebelumnya, warga di sekitar pabrik sempat mengeluhkan paparan debu klinker yang menutupi lahan pertanian hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Debu tersebut bahkan disebut berdampak pada hasil panen dan kesehatan warga.
Namun hingga kini, penanganan maupun kompensasi yang diberikan dinilai belum merata dan belum menjawab keluhan seluruh masyarakat terdampak. (Hus/Tgb).
