TUBAN – Usai diterpa masalah elpiji beberapa minggu terakhir, kini masyarakat di Kabupaten Tuban harus merana karena ulah Minyakita. Minyak goreng program pemerintah itu dilaporkan langka di pasaran, bahkan harganya nekat dipatok di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh oknum nakal.
Untuk diketahui, dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025 mengatur terkait penjualan MinyaKita sebagai minyak goreng premium yang diatur HET. Selain itu, pada Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1028 Tahun 2024, HET Minyakita telah diatur secara berjenjang, yakni:
- Distributor tingkat I HET-nya ditetapkan di angka Rp13.500 per liter.
- Distributor tingkat II mendapatkan HET sebesar Rp14.000 per liter.
- Tingkat pengecer paling tinggi Rp14.500 per liter.
- Terakhir, MinyaKita ditingkat konsumen dibatasi Rp15.700 per liter.
Mendapati kondisi MinyaKita yang mulai langka dan penjualan yang naik, Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan (Diskopumdag) bersama Komisi III DPRD Tuban melakukan kegiatan sidak pasar. Tujuannya tak lain untuk memastikan harga-harga bahan pokok di pusat niaga itu tetap stabil serta stok barang tetap aman.
Kepala Diskopumdag Tuban, Gunadi mengungkapkan secara umum harga Bahan Pokok Penting (Bapokting) mulai melandai. Landainya harga sayangnya tak diikuti dengan komoditas MinyaKita. Rapor merah minyak untuk memasak itu masih ditemukan khususnya pada pedagang yang menyuplai stok di luar mitra Bulog.
“Kalau yang mitra Bulog semua aman sesuai aturan. Tapi tadi kami temukan ada yang menjual di atas HET bagi pedagang yang mengambil barang di luar Bulog. Ini yang perlu kita telusuri alurnya,” ungkap Gunadi usai sidak.
Ia meminta agar distributor lebih perhatian kepada para pengecer. Harapannya, harga dari distributor harus cukup rendah agar pengecer masih bisa mengambil untung meski menjual sesuai HET yang ditetapkan pemerintah.
“Sejauh ini yang sudah sesuai ini kan yang mitra Bulog, harapannya ya kedepannya mekanisme ini bisa berlaku untuk distributor lain diluar Bulog ini,” tambahnya.
Senada dengan itu, Ketua Komisi III DPRD Tuban, Tulus Setyo Utomo menyoroti anjloknya pasokan Minyakita yang diterima pedagang. Jika sebelumnya mitra bisa mendapat jatah 50 hingga 100 dus per minggu, kini mereka hanya dijatah 15 dus saja.
“Stoknya memang menurun drastis. Kami sudah koordinasi dengan Bulog dan memang kondisinya sedang ada penurunan stok dari pusat,” ujar Tulus.
Politisi asal Partai PDI-Perjuangan ini juga membeberkan fakta lapangan terkait mahalnya harga Minyakita. Beberapa pedagang mengaku terpaksa menjual mahal karena harga kulakannya saja sudah menyentuh angka Rp20 ribu per liter di jalur non-mitra Bulog.
“Masalah regulasi dan pengawasan ini harus diperketat lagi. Jangan sampai distribusinya tidak tepat sasaran dan justru memberatkan rakyat kecil,” tegas politisi senior tersebut.
Sebagai tindak lanjut, DPRD Tuban berencana memanggil Diskopumdag, Bulog, hingga para distributor ke gedung dewan untuk mengurai benang kusut distribusi Minyakita di Bumi Wali.
Selain MinyaKita, dari sidak tersebut juga menunjukkan harga cabai merah keriting masih tertahan di angka Rp65 ribu per kilogram, meskipun harga cabai jenis lain mulai turun seiring masuknya masa panen di tingkat petani. (Hus/Tgb).
