TUBAN – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP2P) Pemkab Tuban menyatakan, kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah kerjanya. Sedangkan untuk meningkatkan populasi sapi, masyarakat didorong melakukan Inseminasi Buatan (IB).
Data dari DKP2P Tuban menyebut, kasus PMK per 10 Februari 2025 di Bumi Ranggalawe sudah mencapai 281 kasus. Rinciannya sebanyak 244 sembuh, 13 masih sakit, lima ekor harus dipotong paksa serta 19 harus mati karena virus tersebut.
Sedangkan data yang dirilis per 2 Februari 2025 sebelumnya, jumlah sapi yang terkena virus PMK sebanyak 266 ekor. Sebanyaknya 199 ekor sembuh, 45 masih sakit, dan empat ekor terpaksa di potong, dan sebanyak 18 ekor mati, Ronggo.id (5/02/2025).
“IB lebih efektif untuk meningkatkan populasi sapi, karena tidak perlu mendatangkan sapi dari luar yang justru malah dapat menyebarkan penyakit,” kata Kepala DKP2P Tuban, Eko Julianto, melalui Kabid Kesehatan Hewan, Pipin Diah Larasati, saat ditemui Ronggo.id di kantornya, Kamis (13/2/2025).
Ia tegaskan, jika IB atau kawin suntik di tengah pandemi PMK aman dilakukan. Hal tersebut karena ada prosedur yang ketat dalam melakukannya.
Sesuai prosedur IB, jelas Pipin, sebelum melakukan kawin suntik pada hewan ternak, inseminator (petugas penyuntik) harus menggunakan Alat Perlindungan Diri (APD), dan juga disemprot disinfektan. Selain juga masih menaati prosedur lain.
Ia menambahkan, ada banyak jenis sperma beku sapi yang dapat digunakan untuk melakukan IB. Diantara varian yang telah ada di daerah dengan populasi sapi terbanyak ke dua se-Jawa Timur ini, yakni Limosin, Simental, PO, Brahman, dan jenis Belgian Blue.
Munculnya kasus PMK tahun 2022 lalu, menyebabkan jumlah populasi sapi kian menurun. Melalui IB diharapkan dapat meningkatkan populasi sapi di Bumi Wali.
“Alhamdulillah saat ini PMK sudah semakin terkendali, kami juga telah menerima vaksin tambahan dari Pemprov Jawa Timur kemarin,” pungkas Pipin. (Hus/Tgb)
