TUBAN – Beberapa hari terakhir masyarakat di Kabupaten Tuban, dan sekitarnya mengeluhkan kondisi cuaca sangat panas dan menyengat. Sengatan terik tersebut dirasakan pula hingga malam hari.
Fenomena alam di musim kemarau ini, dipicu gerak semu matahari yang saat ini berada di Belahan Bumi Selatan (BBS). Posisi ini tepat melintas di atas kawasan Pulau Jawa.
Kepala stasiun BMKG Kelas III Kabupaten Tuban, Mochammad Nur, mengungkapkan, pergerakan matahari menuju BBS sudah berlangsung sejak 23 September 2026 lalu. Fenomena ini diperkirakan baru akan kembali bergeser menuju Belahan Bumi Utara (BBU) pada 21 Maret 2027 mendatang.
Nur menjelaskan, puncaknya terjadi ketika matahari berada tepat sejajar di atas Pulau Jawa pada 12 Oktober lalu. Lokasi yang begitu dekat ini praktis membuat radiasi sinar matahari terpancar maksimal hingga memicu lonjakan suhu udara di Jawa Timur, termasuk di Bumi Ronggolawe.
“Sampai saat ini posisi matahari masih terbilang dekat dengan Pulau Jawa, sehingga radiasi dan hawa panasnya sangat terasa menyengat,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu (21/10/2026)
Berdasarkan pencatatan BMKG per 20 Oktober 2026, suhu maksimum tertinggi di Jawa Timur terdeteksi di Kabupaten Lamongan yang menembus angka 38,3 derajat Celsius. Sementara itu, suhu udara di Kabupaten Tuban sendiri tercatat mencapai 36,1 derajat Celsius.
Kondisi terik ini berbanding terbalik jika dibandingkan pada awal musim kemarau lalu. Kala itu, masyarakat Kota Legen ini sempat merasakan fenomena bediding, yakni suhu udara malam hingga pagi hari yang terasa amat dingin.
“Adanya kebakaran hutan dan juga lahan diluar Jawa ini sepertinya tidak berpengaruh, Mas,” tambah Nur.
Menyikapi sengatan cuaca panas yang masih mengintai, pihak BMKG mewanti-wanti masyarakat agar ekstra menjaga kesehatan tubuh. Langkah paling sederhana namun krusial adalah mencukupi asupan air putih secara teratur guna mengantisipasi risiko dehidrasi.
Selain itu, warga disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama pada jam-jam rawan paparan panas terik mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
Bagi masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, penggunaan pelindung fisik seperti topi, payung, hingga olesan tabir surya (sunscreen) sangat dianjurkan.
“Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca serta peringatan dini melalui kanal resmi dan aplikasi BMKG, agar bisa menyesuaikan agenda aktivitasnya sehari-hari,” pungkas Nur. (Hus/Tgb).
