TUBAN – PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Tuban menegaskan bahwa kabar mengenai rencana Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap puluhan petugas keamanan tidaklah benar. Pihak manajemen menjelaskan bahwa langkah yang sedang diambil saat ini hanya murni merupakan upaya efisiensi di berbagai lini operasional perusahaan.
Sebelumnya, para satpam di perusahaan itu sempat merasa khawatir akan masa depan mereka akibat santernya kabar burung mengenai rencana pengurangan staf dan pemotongan gaji yang akan dimulai pada tahun 2027.
Dalam pernyataan resminya pada Selasa (23/6/2026), manajemen SBI Pabrik Tuban secara tegas membantah adanya agenda rasionalisasi atau pemangkasan sepihak terhadap para sekuriti mereka.
“Hingga saat ini, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Pabrik Tuban tidak memiliki rencana untuk melakukan pemutusan hubungan kerja,” tulis Corporate Communication Reg 3 PT SBI Tuban, Ario Patra Nugraha dalam rilisnya.
Kendati menepis isu PHK, manajemen SBI tidak menampik bahwa korporasi saat ini sedang memperketat ikat pinggang. Kondisi industri domestik yang lesu akibat perlambatan ekonomi global dan tensi geopolitik memaksa perusahaan memutar otak agar tetap bertahan.
Langkah yang diambil tak lain adalah melakukan efisiensi ketat di berbagai lini operasi demi menjaga napas bisnis tetap stabil.
Terkait nasib tenaga pengamanan yang berada di bawah bendera vendor (perusahaan mitra), manajemen SBI mengaku terus mendorong langkah-langkah penghematan. Namun, mereka memberikan catatan tebal agar pihak ketiga tersebut tetap memprioritaskan hak-hak dan pemanfaatan pekerja lokal.
“Dalam hal kerja sama dengan perusahaan mitra, SBI mendorong upaya-upaya untuk mengeksplor peluang-peluang efisiensi dengan tetap memprioritaskan sumber daya setempat,” lanjutnya.
Isu pengurangan tenaga kerja di ring industri Tuban memang selalu menjadi pematik sensitif bagi publik Bumi Wali. Sebagai perusahaan terbuka yang menyerap sekitar 1.750 pekerja di empat pabrik terintegrasi di Indonesia, termasuk di Bumi Wali, komitmen sosial perusahaan plat merah kini tengah diuji.
Pihak manajemen menyatakan siap membuka pintu dialog dan menerima masukan dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) demi merumuskan solusi terbaik tanpa mengorbankan iklim ekonomi daerah.
Menyikapi ketiadaan rencana tersebut, Ketua PUK SPAI FSPMI PT Target, Shokiful Alfianto, memberikan apresiasi positif. Namun demikian, pihak serikat pekerja berkomitmen untuk tetap melakukan pengawasan ketat guna mengantisipasi sekaligus memastikan bahwa kebijakan pengurangan upah maupun rasionalisasi jumlah personel pengamanan pada tahun 2027 tidak direalisasikan.
“Berita baik ini pun sudah saya sampaikan kerekan-rekan dan reaksinya diluar perkiraan saya, Mas, teman-teman justru marah besar karena yang dianggap bapak security disini malah menyebar berita seperti ini,” jelas Shokiful.
Menurutnya, desas-desus tersebut membuat psikologisnya, rekan-rekan sesama satpam bahkan keluarga mereka sempat terganggu dengan informasi tersebut. Mereka berharap pihak perusahaan plat merah ini mengevaluasi total departemen securitynya.
Masyarakat dan para pekerja tentu berharap, jargon efisiensi yang digungkan korporasi raksasa ini tidak menjadi kedok halus yang berujung pada terpangkasnya kesejahteraan buruh lokal di kemudian hari. (Hus/Tgb).
