TUBAN Koleksi purbakala berupa Nekara perunggu asal kebudayaan Dongson resmi menjadi artefak tertua yang tersimpan di Museum Kambang Putih Tuban. Keberadaan benda prasejarah ini bisa dibilang menyaingi popularitas Kalpataru yang selama ini menjadi ikon utama museum tersebut.

Museum yang letaknya berada di jantung kota Bumi Wali ini memiliki ikon yakni sebuah Kalpataru dari peninggalan Sunan Bonang. Benda bersejarah ini awalnya sempat dijadikan tiang penyangga pendopo di kompleks makam Sunan Bonang, sebelum akhirnya dievakuasi ke museum sekitar tahun 1984.

Meski peninggalan tersebut merupakan ikon dari Museum Kambang Putih, ternyata mereka juga menyimpan beda lain yg usianya jauh lebih tua. Museum yang lokasinya berdekatan dengan alun-alun kota Tuban ini ternyata menyimpan nekara dari ribuan tahun lalu.

Artefak kuno ini diperkirakan sudah ada sejak 500 Tahun Sebelum Masehi (SM). Artinya, usia Nekara ini seribu tahun lebih tua dibanding Kalpataru dari era Sunan Bonang. Keberadaannya menjadi bukti sahih bahwa wilayah Tuban telah menjadi pemukiman manusia sejak 2.500 tahun lalu.

“Usianya jauh lebih tua. Kalpataru itu ada di sekitar era Sunan Bonang abad ke-15. Sedangkan Nekara ini sudah ada sejak masa sebelum masehi,” ujar Staf Museum Kambang Putih, Deni Anto.

Deni menguraikan, artefak ini merupakan representasi kebudayaan Zaman Perunggu di Asia Tenggara, yang mana masa kebudayaan ini eksis jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara. Pada zamannya, Nekara memegang posisi yang sangat sakral dalam tatanan sosial masyarakat Bumi Ronggolawe kuno.

Fungsinya pun terbilang sangat beragam dan kaya makna spiritual. Benda ini kerap digunakan untuk ritual memanggil arwah leluhur atau upacara meminta hujan. Selain itu, Nekara juga dipakai sebagai mas kawin hingga bekal kubur dalam ritus kematian.

Kepemilikan benda ini otomatis mendongkrak strata sosial pemiliknya karena bernilai ekonomi tinggi. Ukurannya pun menentukan fungsi yang berbeda. Nekara kecil biasanya untuk mahar, sedangkan yang besar difungsikan sebagai genderang perang. Dentumannya diyakini membawa kekuatan magis dan keselamatan bagi prajurit.

Secara anatomi, benda purbakala ini terbagi menjadi empat bagian:

  • Bidang Pukul: Bagian atas dengan hiasan motif dekorasi.
  • Bahu Cembung: Sisi atas yang dilengkapi sepasang pegangan.
  • Pinggang: Bagian tengah tubuh Nekara yang menyempit.
  • Kaki: Bagian bawah yang melebar sebagai tumpuan kokoh.

Sayangnya, riwayat waktu yang panjang tidak bisa dilawan. Ukiran indah seperti pola flora, fauna, hingga aktivitas berburu kini telah meredup. Faktor usia dan proses tertimbun tanah yang lama membuat visualisasi ragam hiasnya memudar. Sekarang hanya tersisa goresan geometris yang samar.

Deni juga membeberkan fakta lain terkait koleksi tersebut. Museum Kambang Putih sebenarnya memiliki koleksi Nekara besar yang berisi arca gajah perunggu. Namun, artefak asli itu sudah diboyong ke Museum Mpu Tantular Surabaya sejak tahun 1979. Koleksi yang dipajang di Tuban saat ini merupakan replikanya.

Saat ini, Museum Kambang Putih Tuban total merawat 5.774 koleksi benda bersejarah. Namun, pihak pengelola harus selektif dalam memajang barang-barang tersebut karena keterbatasan tempat.

“Hanya sekitar 600 koleksi yang bisa dipajang di dalam etalase kaca. Selebihnya terpaksa disimpan karena kondisinya mayoritas berupa fragmen atau pecahan,” pungkas Deni. (Hus/Tgb).