TUBAN — Malam itu, Kamis (23/10/2025), jalanan Tuban yang biasanya lengang berubah riuh. Puluhan remaja menyalakan motor mereka, melaju beriringan sambil membunyikan knalpot keras seolah jalan raya adalah panggung unjuk gigi. Tapi euforia itu tak berlangsung lama. Dalam hitungan menit, sirene patroli membelah malam. Satu per satu mereka digiring ke Markas Polres Tuban.

Sekitar 40 remaja diamankan petugas malam itu. Sebagian masih mengenakan jaket perguruan silat, sebagian lain menunduk ketika motor mereka 18 unit semuanya disita polisi karena tak memiliki surat lengkap atau sudah dimodifikasi ekstrem.

“Benar, ada sekitar 40 remaja yang kami amankan. Mereka konvoi tanpa izin dan mengganggu ketertiban,” ujar Kasihumas Polres Tuban, Iptu Siswanto, mewakili Kapolres AKBP William Cornelis Tanasale.

Konvoi itu bukan sekadar kesenangan remaja yang lepas kendali. Polisi menduga, aksi tersebut merupakan bentuk euforia pasca latihan atau pengukuhan anggota perguruan silat, fenomena yang kerap berulang di Tuban dan sejumlah daerah di Jawa Timur.

“Kelompok ini berasal dari kecamatan Soko, Rengel, dan Plumpang. Kita sudah peringatkan, konvoi seperti ini bukan budaya silat, tapi bentuk pelanggaran,” tambah Siswanto.

Polres Tuban tak ingin kasus serupa berujung pada gesekan antarkelompok seperti yang pernah terjadi di beberapa wilayah lain. Karena itu, polisi menempuh pendekatan persuasif: para remaja didata, dibina, lalu diminta datang keesokan paginya bersama orang tua dan guru masing-masing.

Namun di balik tindakan itu, ada potret sosial yang lebih dalam: pergeseran makna identitas perguruan silat di kalangan muda. Dari wadah pembinaan mental dan olahraga, sebagian berubah menjadi simbol gengsi dan ajang eksistensi di jalanan.

Polres Tuban kini memperkuat patroli skala besar setiap malam, menyisir kawasan rawan konvoi dan balap liar. Tapi aparat sadar, penindakan saja tak cukup. Diperlukan kolaborasi lintas lembaga dari sekolah, tokoh masyarakat, hingga pengurus perguruan untuk merawat akar budaya silat yang sejatinya menjunjung kedisiplinan dan kehormatan, bukan kebut-kebutan di jalan raya.

“Anak-anak ini bukan kriminal, mereka korban salah arah. Tapi ketertiban tetap harus dijaga,” ujar salah satu perwira yang terlibat dalam patroli malam itu. (Hus/Tgb).