TUBAN – Aroma tidak sedap kembali menyeruak di tengah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tuban. Alih-alih mendapatkan asupan nutrisi untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan 1477 H, sejumlah siswa di Kecamatan Rengel justru dihadiahi susu kedelai basi yang nyaris masuk ke kerongkongan mereka.
Sebelumnya wali murid di Kecamatan Kerek dan Palang sama-sama mengeluh soal kualitas makanan yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di masing-masing daerah. Keluhan mereka pun kebanyakan sama, yakni minimnya gizi di porsi makanan serta kualitas buah tak segar yang disajikan.
Kali ini giliran SPPG Rengel I yang menjadi perhatian publik. Para siswa-siswi dari SD Negeri 1 Rengel mengungkapkan bahwa mereka menerima paket menu pisang coklat, telur rebus dengan susu kedelai yang diduga sudah basi. Tak hanya satu atau dua, tetapi semuanya basi.
“Punya teman-teman yang lain juga sama, tapi yang dapat hanya anak kelas empat, lima dan enam. Kalau kelas bawahnya itu berbeda,” kata siswa-siswi tersebut.
Menanggapi adanya hal itu, Perwakilan dari SPPG Rengel I, Nurul tak menyanggah akan adanya kejadian tersebut. Karena hal itu pihaknya langsung menarik sebanyak 1.193 porsi yang rencananya baru akan dibagikan.
“Yang sudah terdistribusi 800an porsi, Mas, dan yang sudah terdistribusi itu kami ganti. Saat ini masih proses menghitung budgeting,” katanya saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Jumat (27/2/2025).
Nurul menambahkan pihaknya menerima adanya keluhan susu kedelai yang basi tersebut dua jam setelah proses pembagian makanan bergizi. Ia menduga permasalahan itu berasal dari kesalahan penyimpanan dari pihak distributor.
“Mungkin karna prodak UMKM, Mas, lepas subuh barang baru datang ke dapur dan pembuatanya malam itu juga. Dan siang kita langsung bagikan tanpa kami simpan terlebih dahulu karena kulkas tidak sampai,” tambahnya.
Menurutnya adanya kejadian tersebut menjadi evaluasi besar serta pelajaran berharga untuk pihak SPPG dari yayasan Baktygraha itu. Selanjutnya, pihaknya akan selalu berhati-hati dan memastikan bahwa barang yang disalurkan sesuai dengan petunjuk dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kami mohon maaf kepada para penerima manfaat. Adanya kejadian tersebut diluar prediksi kami, kami berkomitmen akan selalu menjaga pelayanan kami kedepan,” kata Nurul menutup.
Di hari yang sama, menu SPPG Bektiharjo II juga dikeluhkan oleh wali murid, Ahmad. Ia kecewa dengan menu yang dibagikan. Pada porsi untuk dua hari tersebut anaknya hanya mendapatkan sepotong roti, tempe, ayam ungkep, telur rebus, pisang ulin serta susu kemasan ukuran kecil.
“Dengan kondisi menu seperti ini apa benar telah memenuhi kebutuhan gizi,” tanyanya dengan nada kecewa.
Karena banyaknya kasus-kasus tersebut, saat ini sosial media di Bumi Wali ramai dengan postingan-postingan keluhan para wali murid. Mereka menantikan langkah tegas dari Pemerintah Daerah maupun instansi yang berwenang guna memperbaiki kualitas gizi dari makanan yang diberikan kepada seluruh penerima manfaat.
Menanggapi derasnya gelombang kritik dari masyarakat, Pasi Teritorial Kodim 0811 Tuban, Kapten Dodi Anang Kustiawan, menyatakan akan memberi penekanan kepada para koordinator wilayah agar meneruskan evaluasi tersebut kepada seluruh SPPG dan ahli gizi di masing-masing wilayah.
“Rencananya akan kami kumpulkan tapi masih menunggu waktunya Dandim,” pungkas Kapten Dodi. (Hus/Tgb).
