TUBAN — Puluhan lilin menyala di Warung Kopi Buzaka, Senin (6/10/2025) malam. Ratusan pengemudi ojek online (ojol) dari berbagai komunitas berkumpul, menundukkan kepala, dan melantunkan doa bagi Affan Kurniawan (21), rekan sesama pengemudi daring yang meninggal dunia setelah tertabrak dan terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta, pada 28 Agustus 2025.
Tragedi yang menimpa Affan menyita perhatian publik. Pemuda sederhana itu meninggal saat melintas di sekitar lokasi demonstrasi. Ia bukan peserta aksi, melainkan tengah mengantarkan pesanan pelanggan. Namun takdir berkata lain, mobil taktis yang melaju di tengah kericuhan justru menabrak dan melindas tubuhnya.
Tubuh Affan remuk, dan ia tewas di tempat. Kabar itu menyebar cepat di kalangan pengemudi daring di seluruh Indonesia, menimbulkan gelombang duka dan kemarahan.
Empat puluh hari setelah tragedi itu, Himpunan Pengusaha Daring Indonesia (HIPDA) Kabupaten Tuban menggelar doa bersama untuk mengenang Affan.
Acara tersebut dihadiri ratusan pengemudi ojol, baik anggota HIPDA maupun dari komunitas-komunitas kecil.
Doa bersama berlangsung khidmat, ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol kebersamaan dan harapan agar rekan-rekan ojol senantiasa diberi keselamatan.
Tak sekadar mengenang, kegiatan ini juga disertai sosialisasi keselamatan berkendara dan ketertiban umum yang diisi oleh sejumlah instansi pemerintah. Hadir di antaranya Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP), Dinas Sosial P3A PMD, Organda, Polres Tuban, serta Yayasan Nurul Hayat.
Perwakilan HIPDA Jawa Timur, Rendy Gusterry, menyebut acara ini sebagai bentuk nyata solidaritas antarojol.
“Kegiatan ini bentuk rasa duka kami untuk almarhum Affan. Sekaligus ajang edukasi agar teman-teman lebih sadar pentingnya keselamatan di jalan,” ujarnya.
Menurut Rendy, kegiatan ini merupakan gebrakan pertama HiPDA Tuban yang diharapkan dapat mempererat sinergi antaranggota dan membuka ruang dialog antara pengemudi daring dan pemerintah daerah.
“Kami ingin HiPDA jadi wadah perjuangan, agar para mitra ojol bisa mendapat hak dan perlindungan yang layak,” tambahnya.
Sementara itu, Kanit Turjagwali Polres Tuban IPDA Rizky Dwi Prasetyo dalam sambutannya menekankan pentingnya edukasi keselamatan bagi para pengemudi daring.
“Mereka adalah kelompok yang paling sering berinteraksi di jalan. Kami berharap mereka bisa menjadi contoh dalam keselamatan berkendara,” katanya.
Rizky menegaskan, kepolisian siap bersinergi dengan HiPDA Tuban untuk kegiatan pembinaan dan edukasi lalu lintas secara berkelanjutan.
Doa untuk Affan, Pesan untuk Negeri
Affan Kurniawan telah tiada, namun kisahnya belum berakhir. Di tengah malam yang hening, doa-doa dari para pengemudi daring di Tuban menjadi saksi bahwa solidaritas rakyat kecil masih hidup, bahkan setelah nyawa mereka direnggut oleh roda kekuasaan.
“Dari Affan, kami belajar. Bahwa di jalan, kami tak hanya mencari rezeki, tapi juga memperjuangkan martabat,” kata salah satu pengemudi dengan suara lirih.
Affan telah pergi, namun semangatnya menyalakan kembali rasa persaudaraan di antara para pekerja jalanan. Di tengah hiruk pikuk negeri yang sering lupa pada rakyat kecil, malam doa itu menjadi pengingat sederhana, bahwa duka bisa menyatukan, dan solidaritas adalah cara terbaik untuk tetap manusiawi. (Hus/Tgb).
