TUBAN Kisah pilu menimpa Kasmi (66), seorang gelandangan dan pengemis (gepeng) asal Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Ia ditemukan meninggal dunia di Rumah Perlindungan Sosial (RPS) Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3A serta PMD) Bumi Wali, Rabu (24/6) pagi.

Hingga mengembuskan napas terakhirnya, nasib Kasmi terbilang tragis lantaran pihak keluarga enggan menerima dan merawatnya. Ia pun terpaksa menghabiskan sisa usianya dalam kesunyian, mengandalkan belas kasihan dari tetangga sekitar dan petugas sosial yang mendampinginya hingga ajal menjemput.

Sebagai informasi, kasus kematian MK menjadi peristiwa pertama yang terjadi di RPS Tuban sepanjang tahun 2026 ini. Sementara pada tahun 2025 lalu, tercatat ada dua orang penghuni RPS berkategori ODGJ yang dilaporkan meninggal dunia di fasilitas penampungan tersebut.

Plt Kepala Bidang Pemberdayaan Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Korban Tindak Kekerasan, Dinsos P3A serta PMD Tuban, Hermawan Winarto mengungkapkan, korban bukanlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Wanita lansia tersebut merupakan gepeng yang sebelumnya terjaring razia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Gresik.

“Beliau warga Kecamatan Soko. Terjaring operasi Satpol PP di Gresik sebelum Hari Raya Idulfitri kemarin. Setelah berkoordinasi dengan Dinsos Gresik, akhirnya dievakuasi dan dibawa ke RPS Tuban,” ujar Hermawan kepada awak media.

Sebelum ditampung di Rumah Perlindungan Sosial-Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (RPS-PMKS) Tuban, korban ditemukan terlantar di jalanan Gresik dalam kondisi sakit, bahkan sempat menjalani perawatan medis di RSUD Ibnu Sina Gresik. Setibanya di Tuban, upaya penanganan kesehatan terhadap wanita malang itu sebenarnya tetap dilanjutkan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, dia didiagnosis menderita penyakit stroke yang membuat kondisi fisiknya sangat lemas saat pertama kali masuk ke rumah penampungan milik Dinsos itu. Sayangnya, karena terkendala masalah kepesertaan BPJS, MK tidak bisa menjalani rawat inap intensif di rumah sakit dan hanya bisa dirawat oleh petugas disana.

“Selain stroke, beliau juga perokok berat, sehingga proses pemulihannya cukup sulit. Semalam kondisinya terlihat biasa saja, namun pagi harinya ditemukan sudah meninggal dunia,” imbuh Hermawan.

Pihak Dinsos Tuban sebenarnya sempat berupaya memindahkan MK ke panti rehabilitasi sosial yang lebih memadai. Namun, rencana itu urung terlaksana karena kondisi fisik Kasmi yang lumpuh akibat stroke tidak memenuhi kriteria penerimaan panti. Ironisnya, pihak keluarga yang dihubungi petugas juga menunjukkan sikap penolakan.

“Korban ini tidak punya anak, ahli warisnya hanya keponakan. Kami sudah mencoba menghubungi pihak keluarga, tetapi mereka menyatakan enggan untuk merawat,” beber pria yang juga menjabat sebagai Sekcam Kerek ini.

Terkait proses pemakaman jenazah, Hermawan menegaskan bahwa pihaknya tetap mengutamakan komunikasi dengan pihak keluarga terlebih dahulu.

“Prioritas utama tetap kami serahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan. Namun, jika pihak keluarga bulat menolak, maka proses pemakaman sepenuhnya akan difasilitasi oleh Dinsos,” pungkasnya. (Hus/Tgb).